Thursday, June 25, 2026

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Kalau ada satu malam yang ingin saya ulang dalam hidup ini, mungkin malam itu.
Bukan karena saya ingin mengubah takdir.
Tetapi karena malam itulah saya pertama kali menerima tanda bahwa ginjal saya sedang kehilangan fungsinya.
Sayangnya, saat itu saya belum mampu membacanya.


Malam itu saya tidur lebih cepat dari biasanya.

Besok paginya saya harus menggelar Table Top SIBARISTA di Hotel Grandhika Semarang. Semua persiapan sudah selesai. Saya ingin tidur nyenyak agar besok bisa fokus memimpin acara.

Namun di tengah malam saya tiba-tiba terbangun.

Rasanya ada yang aneh.

Celana dan sprei saya basah.

Awalnya saya mengira hanya ketumpahan sesuatu atau mungkin saya berkeringat terlalu banyak.

Tetapi setelah saya periksa, ternyata bukan.

Cairan itu keluar dari dubur.

Anehnya, cairannya bening, agak lengket, tetapi sama sekali tidak berbau seperti feses.

Saya belum pernah mengalami kejadian seperti itu.

Jujur saja, malam itu saya mulai panik.

Saya langsung membangunkan istri.

"Mbak... ayo ke rumah sakit."

Tanpa banyak bertanya, istri segera bersiap menemani saya ke IGD.

Saya sama sekali tidak menyangka, keputusan berangkat ke rumah sakit pada tengah malam itulah yang akhirnya membuka kenyataan tentang kondisi ginjal saya.

Di IGD dokter melakukan berbagai pemeriksaan.

Salah satunya pemeriksaan darah.

Dari situlah saya pertama kali mengetahui bahwa kadar kreatinin saya sudah berada di atas normal.

Saat itu saya belum benar-benar memahami arti angka kreatinin.

Saya hanya tahu, dokter mengatakan fungsi ginjal saya mulai menurun dan harus terus dipantau.

Sejak saat itu saya mulai rutin kontrol.

Setiap kali hasil laboratorium keluar, angkanya bukannya turun, tetapi pelan-pelan terus naik.

Sampai akhirnya pada Februari 2024 kreatinin saya mencapai 3,75 mg/dL.

Saya mulai khawatir.

Namun sebulan kemudian saya berangkat umrah.

Perjalanan itu memberi ketenangan yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata.

Sepulang dari Tanah Suci saya kembali kontrol.

Hasilnya membuat saya benar-benar bahagia.

Kreatinin saya turun menjadi 2,75 mg/dL.

Saya ingat sekali perasaan waktu itu.

Saya pulang dengan senyum yang tidak berhenti.

Dalam hati saya berkata, "Alhamdulillah... mungkin Allah sedang menyembuhkan saya."

Saat itu saya benar-benar percaya kondisi ginjal saya sedang membaik.

Sayangnya, saya terlalu cepat merasa aman.

Saya belum mampu mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Seharusnya penurunan kreatinin itu menjadi pengingat agar saya lebih disiplin menjaga pola hidup, pola makan, dan kesehatan.

Tetapi saya justru merasa semuanya sudah berlalu.

Beberapa bulan kemudian kenyataannya berbicara lain.

Angka kreatinin kembali naik.

Terus naik.

Sampai sekitar Agustus sudah mendekati angka 7 mg/dL.

Dokter mulai berbicara lebih serius.

"Kalau fungsi ginjalnya terus menurun, Bapak harus bersiap menjalani cuci darah."

Saya belum bisa menerima kalimat itu.

Saya masih yakin semuanya bisa diperbaiki.

Saya berusaha diet lebih ketat.

Mencari berbagai informasi.

Melakukan apa pun yang saya anggap bisa mempertahankan fungsi ginjal.

Tetapi ternyata kehendak manusia tidak selalu sama dengan rencana Allah.

Pada Oktober 2024 saya kembali masuk IGD.

Kali ini kondisi saya jauh lebih berat.

Setelah dirawat selama dua hari, dokter akhirnya menyampaikan diagnosis yang paling saya takutkan.

Gagal Ginjal Kronis.

Saya hanya terdiam.

Bukan karena tidak mendengar.

Tetapi karena butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa hidup saya tidak akan sama lagi.

Rumah sakit tempat saya dirawat saat itu belum memiliki fasilitas hemodialisis.

Karena itu saya harus dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki mesin cuci darah dan masih tersedia kuota pasien.

Saya memilih Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro di Tembalang.

Hari itu saya belum tahu bagaimana rasanya cuci darah.

Saya juga belum tahu bahwa sejak hari itulah mesin hemodialisis akan menjadi bagian dari hidup saya setiap minggu.

Kini, setelah menjalani perjalanan panjang sebagai pasien gagal ginjal kronis, saya sering mengingat kembali malam ketika ranjang saya tiba-tiba basah.

Saya baru memahami bahwa Allah sebenarnya sudah memberi saya tanda.

Bukan untuk menakut-nakuti.

Tetapi untuk mengingatkan.

Kadang Allah tidak langsung memberi ujian yang besar.

Dia lebih dulu memberi isyarat-isyarat kecil agar kita mau berhenti sejenak, memeriksa diri, dan memperbaiki hidup.

Sayangnya, saya baru benar-benar memahami arti tanda itu setelah semuanya terjadi.

Tentang Kariswisata

kariswisata.com adalah platform blog perseroangan yang dikelola oleh karis seorang ASN penggerak dan pemberdaya masyarakat melalui pendampingan desa wisata, Blogger, Pendaki Gunung dan Penyintas Gagal Ginjal Kronis Stadium 5 dengan Hemodialisa. Menceritakan Pengalaman Hidupnya untuk menjadi pembelajaran bagi diri sendiri dan pembacanya khususnya generasi muda (Gen X dan Gen Z).



Untuk berkomunikasi dan menghubungi penulis bisa melalui email kariswisata.id (at) Gmail.com atau whatshap ke 0812121975. Untuk mengetahui lebih detail tentang sosok karis silahkan Klik Link pada tiap Judul Berikut :


Selain mengelola aku blog ini untuk mengkampanyekan beberapa hal seperti Berbagi Pengalaman Pasien Hemodialisa di tiktok @Ginjaltalk, Berbagai pengalaman mendaki gunung dan wisata di youtube kariswisata.id, untuk berbagi cerita pendampingan desa wisata di tiktok @sibaristasmg dan akun personal media sosial di tiktok @kariswisataid dan instagram @kariswisata.id