Pengalaman mendampingi masyarakat Gondoriyo membuatku semakin termotivasi untuk mendampingi masyarakat lain mengembangkan potensi dan kearifan lokalnya. Dari pengalaman itu aku semakin percaya bahwa kadang potensi sebenarnya sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana masyarakat melihatnya, percaya, lalu mau bergerak bersama.
Pada awal tahun 2019 aku mendengar kabar bahwa beberapa pemuda yang tergabung dalam Kelurahan Siaga Bencana sedang mengembangkan river tubing di Sungai Mayangsari. Aku penasaran dan meminta Mas Tebo mencari tahu siapa saja tokoh pemuda yang aktif di sana. Kebetulan ketika menulis artikel ini aku sedang mendengarkan lagu “Aktif Mencari Tahu”. Pas juga. :)
Mas Tebo kemudian datang ke lokasi dan bertemu dengan tiga orang, yaitu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Aku lalu menyampaikan kepada mereka bahwa Sabtu berikutnya aku ingin datang. Bukan membawa program atau proyek, aku hanya ingin ngobrol.
Semuanya Dimulai dari Obrolan Berlima
Sabtu itu akhirnya kami berlima bertemu: aku, Mas Tebo, Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Kami ngobrol ngalor-ngidul dan aku menyampaikan niatku. Kalau mereka memang serius ingin merintis Mayangsari menjadi tempat wisata, aku bersedia ikut mendampingi. Alhamdulillah mereka mau.
Kami kemudian janjian lagi Sabtu berikutnya. Kali ini bukan sekadar duduk dan ngobrol, tetapi turun langsung melakukan survei jalur river tubing sekaligus mencari potensi atraksi wisata lainnya. Survei tidak hanya kulakukan sekali. Beberapa kali aku berjalan kaki menyusuri sungai, kadang hanya ditemani satu atau dua orang. Sambil berjalan aku melihat agak jauh ke kanan dan kiri tepian sungai untuk memastikan sebenarnya ada apa saja di sekitar sana.
Potensi utamanya memang sudah jelas, yaitu adventure river tubing dengan jalur kurang lebih 2,5 kilometer. Tetapi ternyata bukan hanya itu. Di sekitar sungai banyak ditemukan sendang atau mata air dengan air yang sangat jernih. Mayangsari juga sudah mempunyai Kampung Snack, tempat ibu-ibu membuat berbagai macam makanan ringan.
Aku kemudian mulai menggali cerita masyarakat setempat. Dari situlah aku menemukan satu cerita yang menurutku menarik untuk dikembangkan menjadi bagian dari wisata Mayangsari: Udang Locok.
Udang Locok, Cerita Para Pencari Pasir
Konon dulu banyak warga Mayangsari yang bekerja mencari pasir di sungai. Ketika berangkat mereka membawa nasi dan beberapa bumbu atau rempah, tetapi tidak membawa lauk. Ketika siang dan waktunya makan, lauknya dicari langsung dari sungai.
Mereka menangkap udang, kemudian memotong bambu sepanjang satu ruas. Udang dimasukkan ke dalam bambu bersama bumbu dan rempah, lalu dilocok di dalam ruas bambu tersebut. Setelah itu bambu ditutup atau disumpal menggunakan kayu, kemudian dipanggang di atas api sampai udang di dalamnya matang. Itulah cerita Udang Locok.
Menurutku cerita seperti ini sayang kalau hanya menjadi cerita lama. Apalagi di sekitar sungai banyak tumbuh pohon pepaya dan terdapat banyak sendang dengan air yang jernih. Maka storytelling kulinernya kami kembangkan menjadi satu paket: Udang Locok sebagai lauk utama, nasi putih, olahan sayur daun pepaya dan Wedang Sendang, minuman yang diceritakan berasal dari air sendang yang jernih dengan tambahan jeruk nipis dan serai.
Tinggal satu persoalan. Kalau suatu saat wisatawan datang dan ingin menikmati Udang Locok, siapa yang akan memasaknya?
Gara-Gara Dipercaya Warga, Aku Mendadak Jadi Juri Kuliner :)
Seiring berjalannya waktu aku semakin sering diundang ke Mayangsari, kadang dalam kegiatan PKK dan kadang dalam acara warga. Suatu ketika aku bahkan diminta menjadi juri lomba jualan UMKM dalam sebuah event kampung.
Sejujurnya aku bukan ahli kuliner. Tetapi karena sudah dipercaya warga, ya mau tidak mau aku berangkat. Sebelum datang aku belajar sedikit mengenai apa saja yang biasanya menjadi kriteria penjurian UMKM kuliner, termasuk bagaimana cara mencicipi dan memberikan penilaian. :)
Entah karena penjurian itu dianggap cukup sukses atau bagaimana, dari acara itulah aku kemudian semakin mengenal Bu Lurah, Pak RW dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Kami sepakat mengadakan pertemuan di rumah salah seorang tokoh masyarakat untuk membicarakan perintisan wisata Mayangsari.
Salah satu hasil penting pertemuan tersebut adalah mengadakan lomba kuliner Udang Locok. Dalam satu RW terdapat 15 RT dan masing-masing RT mengirimkan satu wakil untuk memasak. Lagi-lagi aku diminta menjadi juri bersama perwakilan kelurahan dan tokoh masyarakat.
Tetapi lomba ini bukan sekadar menentukan siapa yang masakannya paling enak. Kami sepakat bahwa juara pertama nantinya menjadi penyedia paket kuliner Udang Locok ketika ada wisatawan yang datang dan memesannya. Dengan begitu, cerita lama masyarakat tidak hanya dihidupkan kembali, tetapi juga dicoba menjadi sebuah produk wisata.
Aku Justru Membayangkan Fun Tubing untuk Anak-Anak
Sejak survei awal sebenarnya aku mempunyai sedikit perbedaan pandangan dengan teman-teman relawan bencana yang mengelola river tubing. Mereka lebih tertarik mengembangkan adventure river tubing sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer, sedangkan aku justru membayangkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Menurutku, pilih saja satu segmen sungai yang tidak terlalu panjang dan mudah diawasi. Anak-anak bisa dolanan ban atau fun tubing di sana. Kemudian yang dikembangkan bukan panjang lintasannya, melainkan bentuk-bentuk permainannya sehingga suatu saat bisa menjadi kegiatan outbound sekaligus edukasi ekowisata sungai.
Tetapi aku sadar posisiku hanya sebagai fasilitator pendamping. Mereka ingin mengembangkan adventure tubing 2,5 kilometer, ya aku ikut saja dulu. Aku tidak ingin datang kemudian merasa gagasanku sendiri yang harus dilaksanakan.
Walaupun demikian, aku ingin memberikan gambaran seperti apa fun tubing yang ada di pikiranku. Caranya sederhana. Aku membawa dua anakku yang saat itu masih SD untuk menjadi “tester”. :)
Aku mengajak kedua anakku bermain ban di segmen sungai sekitar 100 meter dari lokasi yang nantinya menjadi titik gazebo. Waktu itu gazebonya tentu belum dibangun. Mereka turun mengikuti aliran sungai menggunakan ban. Sampai bawah, mereka naik lagi sambil memanggul ban, kemudian turun lagi. Naik lagi, turun lagi, begitu berulang-ulang.
Videonya sampai sekarang masih kusimpan. Saat itu sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan bahwa untuk membuat anak-anak senang bermain di sungai tidak harus menggunakan jalur sepanjang 2,5 kilometer. Aku tentu belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian justru pemandangan seperti itulah yang akan memenuhi Sungai Mayangsari.
Kelurahan Mulai Memberikan Dukungan
Proses bersama warga terus berjalan. Kehadiranku di Mayangsari sebenarnya atas nama pribadi, walaupun faktanya sebagian warga tetap melihatku sebagai orang dinas. Aku tidak terlalu mempersoalkannya. Yang penting prosesnya berjalan dan masyarakat semakin bersemangat.
Keguyuban masyarakat dan keseriusan mereka mengembangkan kawasan akhirnya mendapatkan dukungan dari kelurahan. Melalui anggaran APBD, kawasan sekitar titik akhir river tubing mulai ditata. Dibuat taman dan gazebo sehingga kawasan menjadi lebih rapi, bersih dan nyaman untuk dijadikan salah satu pusat aktivitas wisata.
Secara fisik mulai terlihat hasilnya. Pengunjung memang belum signifikan, tetapi lucunya konflik sudah datang lebih dulu. :)
Wisata Belum Ramai, Konflik Sudah Ada
Konflik pertama cukup sederhana. Ada yang merasa dirinya lebih layak memimpin dibandingkan Mas Gondrong. :)
Kemudian muncul persoalan yang lebih serius. Mas Gondrong beberapa kali dilaporkan oleh orang-orang yang tidak menyukainya, baik kepada pemerintah maupun lembaga lain. Salah satu yang dipersoalkan berkaitan dengan pemanfaatan bantaran sungai dan perintisan wisata yang sedang dilakukan.
Sambil proses terus berjalan, aku ikut mendampingi Mas Gondrong menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Pernah suatu ketika akan ada pertemuan kampung dan Mas Gondrong seperti mau “diadili”. Aku sengaja memberi tanda kutip karena tentu saja bukan diadili dalam pengertian pengadilan. Tetapi kami memperkirakan forum itu akan digunakan untuk mempertanyakan bahkan menyerang apa yang sedang dirintis.
Sore sebelum pertemuan, kami ngobrol dan membekali Mas Gondrong dengan beberapa kata kunci serta argumentasi. Kalau memang nanti ada yang mempermasalahkan perintisan wisata, setidaknya ia sudah siap menjawab.
Esok harinya Mas Gondrong bercerita kepadaku. Katanya, dia menang debat 3–0. Hahaha.... Seru lah. :)
Lalu Covid Datang
Mayangsari sudah mulai dirintis. Kawasan sudah ditata, gazebo dan taman sudah ada, bahkan konflik sudah sempat terjadi. Tetapi wisatawan belum datang secara signifikan.
Kemudian Covid melanda dan Mayangsari semakin sepi. Semua yang sudah kami lakukan seperti harus berhenti sementara. Tidak ada yang tahu apakah wisata yang baru saja dirintis itu nantinya benar-benar akan berkembang atau justru berhenti sampai di sana.
Ternyata ceritanya belum selesai.
Tahun 2021, Sungai Itu Mendadak Ramai
Ketika situasi Covid mulai mereda pada 2021, mungkin masyarakat juga sudah bosan terlalu lama berada di rumah. Orang mulai mencari tempat untuk keluar bersama keluarga. Mayangsari mulai didatangi masyarakat lokal dan warga dari wilayah sekitar.
Awalnya satu dua orang, kemudian bertambah. Semakin ramai, semakin ramai lagi, sampai pada hari Minggu tertentu jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 3.000 orang.
Dan ada satu pemandangan yang membuatku tersenyum. Anak-anak bermain fun tubing di segmen sungai sekitar 100 meter. Mereka turun menggunakan ban sampai titik gazebo, kemudian naik lagi sambil membawa ban. Setelah itu turun lagi. Bolak-balik.
Karena jumlah anak yang bermain semakin banyak, pengelola kemudian memberi penanda pada titik awal di bagian hulu dan titik akhir di hilir. Tali dibentangkan dari satu sisi sungai ke sisi lainnya agar area permainan lebih jelas sekaligus lebih mudah diawasi.
Dulu aku pernah mengusulkan konsep ini. Teman-teman saat itu masih ingin fokus pada adventure tubing sepanjang 2,5 kilometer. Aku tidak memaksakan. Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak dan pengunjung sendiri yang menemukan kesenangannya pada permainan sederhana sepanjang sekitar 100 meter itu.
Aku hanya tersenyum melihatnya.
Dari Sewa Ban, Kemudian Tumbuh 16 Warung
Masyarakat pengelola tidak menarik tiket masuk dari pengunjung yang bermain di sungai. Mereka mendapatkan penghasilan antara lain dari menyewakan ban bekas dan berjualan makanan.
Awalnya satu warung, kemudian dua. Semakin ramai wisatawan, semakin banyak pula orang yang melihat peluang untuk berjualan. Ribut lagi. :)
Akhirnya dibuat kesepakatan agar kesempatan mendapatkan manfaat ekonomi bisa dibagi. Setiap RW mendapatkan kesempatan membuka satu warung ditambah satu warung milik Pokdarwis. Akhirnya ada sekitar 16 warung yang berjualan di tepi sungai.
Aku melihat tempat yang dulu kususuri hanya bersama satu atau dua orang sekarang dipenuhi keluarga. Anak-anak bermain air, ban hilir mudik dan warung-warung berjualan.
Aku nangis. Benar-benar terharu. Rasanya perjuangan bersama warga selama ini tidak sia-sia.
Cerita Mayangsari Sampai ke Bapakku di Wonogiri
Entah siapa yang menceritakan, kabar tentang ramainya wisata Mayangsari ternyata sampai juga ke telinga bapakku. Bapak waktu itu masih sugeng dan berada di kampung di Wonogiri.
Beliau ingin datang ke Semarang. Bukan untuk suatu urusan penting. Bapak hanya ingin melihat wisata Mayangsari.
Buatku rasanya benar-benar seperti dongeng. Tempat yang dulu kususuri bersama satu atau dua orang sambil mencari-cari potensi, sekarang membuat bapakku sendiri penasaran dan ingin melihatnya.
Yang tumbuh ternyata bukan hanya warung di tepi sungai. Penyanyi dangdut lokal dari Pokdarwis tetangga bersama kru mereka mulai tampil setiap Sabtu dan Minggu. Mereka mendapatkan saweran yang lumayan dari wisatawan. Di sepanjang jalan menuju Sungai Mayangsari juga mulai muncul beberapa usaha kuliner dan oleh-oleh.
Sungai yang tadinya sepi mulai menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Kalau Sudah Sukses, Banyak yang Datang :)
Ramainya Mayangsari akhirnya terdengar sampai kepada Walikota. Beliau mengutus staf untuk melakukan survei dan muncul rencana Walikota akan datang sendiri melihat Mayangsari sekaligus ngobrol bersama warga dan Mas Gondrong.
Menariknya, sebelum Walikota benar-benar datang, sudah ada beberapa LSM maupun kelompok relawan yang mendatangi Mayangsari. Ada yang ingin mempunyai “jasa”, seolah-olah kelompok merekalah yang berhasil mendatangkan Walikota ke sana. :)
Ya begitulah. Kalau sudah sukses, banyak yang datang. Kalau masih sepi, siapa yang peduli?
Pukul Enam Pagi Aku Masih di Pos 4 Gunung :)
Sampai pada suatu pagi aku mendapat kabar melalui WhatsApp bahwa Walikota akan datang ke Mayangsari. Karena pejabat dari dinas pariwisata akan mendampingi, aku diminta hadir untuk membantu menjelaskan proses perintisan dan pendampingan Mayangsari kepada pimpinan.
Masalahnya, ketika WA itu masuk sekitar pukul enam pagi, aku sedang berada di Pos 4 jalur pendakian Mawar. Sementara sekitar pukul sembilan aku sudah harus berada di Mayangsari.
Waduh. :)
Aku buru-buru turun. Bahkan rasanya seperti berlari dari gunung sampai basecamp. Dari sana langsung naik kuda besi menuju rumah, mandi, ganti baju, kemudian langsung berangkat ke Mayangsari.
Telat? Pasti. :)
Ketika sampai, pimpinan dari dinas sudah berada di lokasi. Untungnya Walikota belum datang. Aku kemudian sedikit banyak menceritakan kepada pimpinan bagaimana proses pendampingan dan perintisan wisata Mayangsari sampai akhirnya menjadi seramai itu.
Ketika Walikota datang, aku melihat sebentar lalu memilih pulang. Sebelumnya aku sudah berpesan kepada warga, “Di depan Walikota, tidak usah menyebut namaku.”
Malam Setelah Magrib, Rumahku “Digeruduk”
Namanya warga. Mungkin karena hubungan kami sudah terlalu dekat, ketika acara ramah tamah bersama Walikota berlangsung mereka malah mencariku. Mungkin mereka ingin aku ikut berada di forum itu, tetapi aku sudah pulang.
Kupikir selesai sudah cerita hari itu.
Ternyata belum.
Malam harinya setelah Magrib, warga Mayangsari yang merasakan dampak dari berkembangnya wisata itu datang beramai-ramai ke rumahku. Rumahku benar-benar “digeruduk”.
Mereka adalah orang-orang yang dulu bersama-sama merintis ketika Mayangsari masih sepi, orang-orang yang pernah berjalan bersamaku menyusuri sungai, dan orang-orang yang sekarang menyewakan ban, berjualan serta ikut merasakan ramainya wisata.
Mereka datang ke rumahku.
Entahlah....
Meleleh aku. Nangis lagi.
Aku memang tidak ingin namaku disebut di depan Walikota. Aku juga sudah memilih pulang ketika acara berlangsung. Tetapi malam itu mereka justru datang mencariku sampai ke rumah.
Inilah hubungan emosional di antara kami.
Aku datang ke Mayangsari awalnya hanya karena mendengar ada beberapa pemuda bermain river tubing. Aku meminta Mas Tebo “mencari tahu”, lalu bertemu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Dari obrolan berlima, semuanya kemudian berjalan ke mana-mana: menyusuri sungai, menemukan sendang, menggali cerita Udang Locok, membuat lomba kuliner, menata kawasan, menghadapi konflik, dihantam Covid, sampai akhirnya melihat ribuan orang bermain di sungai.
Tetapi ada satu pemandangan yang selalu kusukai ketika mengingat Mayangsari. Anak-anak memanggul ban ke atas, turun mengikuti aliran sungai sekitar 100 meter, kemudian naik lagi membawa bannya. Turun lagi, naik lagi.
Persis seperti dua anakku yang dulu kujadikan “tester” ketika tempat itu bahkan belum ramai.
Dan malam ketika warga Mayangsari datang beramai-ramai ke rumahku, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan siapa yang dahulu melakukan apa.
Mereka datang saja sudah cukup.


