Sunday, September 27, 2026

Pengalaman mendampingi masyarakat Gondoriyo membuatku semakin termotivasi untuk mendampingi masyarakat lain mengembangkan potensi dan kearifan lokalnya. Dari pengalaman itu aku semakin percaya bahwa kadang potensi sebenarnya sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana masyarakat melihatnya, percaya, lalu mau bergerak bersama.



Pada awal tahun 2019 aku mendengar kabar bahwa beberapa pemuda yang tergabung dalam Kelurahan Siaga Bencana sedang mengembangkan river tubing di Sungai Mayangsari. Aku penasaran dan meminta Mas Tebo mencari tahu siapa saja tokoh pemuda yang aktif di sana. Kebetulan ketika menulis artikel ini aku sedang mendengarkan lagu “Aktif Mencari Tahu”. Pas juga. :)

Mas Tebo kemudian datang ke lokasi dan bertemu dengan tiga orang, yaitu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Aku lalu menyampaikan kepada mereka bahwa Sabtu berikutnya aku ingin datang. Bukan membawa program atau proyek, aku hanya ingin ngobrol.

Semuanya Dimulai dari Obrolan Berlima

Sabtu itu akhirnya kami berlima bertemu: aku, Mas Tebo, Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Kami ngobrol ngalor-ngidul dan aku menyampaikan niatku. Kalau mereka memang serius ingin merintis Mayangsari menjadi tempat wisata, aku bersedia ikut mendampingi. Alhamdulillah mereka mau.

Kami kemudian janjian lagi Sabtu berikutnya. Kali ini bukan sekadar duduk dan ngobrol, tetapi turun langsung melakukan survei jalur river tubing sekaligus mencari potensi atraksi wisata lainnya. Survei tidak hanya kulakukan sekali. Beberapa kali aku berjalan kaki menyusuri sungai, kadang hanya ditemani satu atau dua orang. Sambil berjalan aku melihat agak jauh ke kanan dan kiri tepian sungai untuk memastikan sebenarnya ada apa saja di sekitar sana.

Potensi utamanya memang sudah jelas, yaitu adventure river tubing dengan jalur kurang lebih 2,5 kilometer. Tetapi ternyata bukan hanya itu. Di sekitar sungai banyak ditemukan sendang atau mata air dengan air yang sangat jernih. Mayangsari juga sudah mempunyai Kampung Snack, tempat ibu-ibu membuat berbagai macam makanan ringan.

Aku kemudian mulai menggali cerita masyarakat setempat. Dari situlah aku menemukan satu cerita yang menurutku menarik untuk dikembangkan menjadi bagian dari wisata Mayangsari: Udang Locok.

Udang Locok, Cerita Para Pencari Pasir

Konon dulu banyak warga Mayangsari yang bekerja mencari pasir di sungai. Ketika berangkat mereka membawa nasi dan beberapa bumbu atau rempah, tetapi tidak membawa lauk. Ketika siang dan waktunya makan, lauknya dicari langsung dari sungai.

Mereka menangkap udang, kemudian memotong bambu sepanjang satu ruas. Udang dimasukkan ke dalam bambu bersama bumbu dan rempah, lalu dilocok di dalam ruas bambu tersebut. Setelah itu bambu ditutup atau disumpal menggunakan kayu, kemudian dipanggang di atas api sampai udang di dalamnya matang. Itulah cerita Udang Locok.

Menurutku cerita seperti ini sayang kalau hanya menjadi cerita lama. Apalagi di sekitar sungai banyak tumbuh pohon pepaya dan terdapat banyak sendang dengan air yang jernih. Maka storytelling kulinernya kami kembangkan menjadi satu paket: Udang Locok sebagai lauk utama, nasi putih, olahan sayur daun pepaya dan Wedang Sendang, minuman yang diceritakan berasal dari air sendang yang jernih dengan tambahan jeruk nipis dan serai.

Tinggal satu persoalan. Kalau suatu saat wisatawan datang dan ingin menikmati Udang Locok, siapa yang akan memasaknya?

Gara-Gara Dipercaya Warga, Aku Mendadak Jadi Juri Kuliner :)

Seiring berjalannya waktu aku semakin sering diundang ke Mayangsari, kadang dalam kegiatan PKK dan kadang dalam acara warga. Suatu ketika aku bahkan diminta menjadi juri lomba jualan UMKM dalam sebuah event kampung.

Sejujurnya aku bukan ahli kuliner. Tetapi karena sudah dipercaya warga, ya mau tidak mau aku berangkat. Sebelum datang aku belajar sedikit mengenai apa saja yang biasanya menjadi kriteria penjurian UMKM kuliner, termasuk bagaimana cara mencicipi dan memberikan penilaian. :)

Entah karena penjurian itu dianggap cukup sukses atau bagaimana, dari acara itulah aku kemudian semakin mengenal Bu Lurah, Pak RW dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Kami sepakat mengadakan pertemuan di rumah salah seorang tokoh masyarakat untuk membicarakan perintisan wisata Mayangsari.

Salah satu hasil penting pertemuan tersebut adalah mengadakan lomba kuliner Udang Locok. Dalam satu RW terdapat 15 RT dan masing-masing RT mengirimkan satu wakil untuk memasak. Lagi-lagi aku diminta menjadi juri bersama perwakilan kelurahan dan tokoh masyarakat.

Tetapi lomba ini bukan sekadar menentukan siapa yang masakannya paling enak. Kami sepakat bahwa juara pertama nantinya menjadi penyedia paket kuliner Udang Locok ketika ada wisatawan yang datang dan memesannya. Dengan begitu, cerita lama masyarakat tidak hanya dihidupkan kembali, tetapi juga dicoba menjadi sebuah produk wisata.

Aku Justru Membayangkan Fun Tubing untuk Anak-Anak

Sejak survei awal sebenarnya aku mempunyai sedikit perbedaan pandangan dengan teman-teman relawan bencana yang mengelola river tubing. Mereka lebih tertarik mengembangkan adventure river tubing sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer, sedangkan aku justru membayangkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.



Menurutku, pilih saja satu segmen sungai yang tidak terlalu panjang dan mudah diawasi. Anak-anak bisa dolanan ban atau fun tubing di sana. Kemudian yang dikembangkan bukan panjang lintasannya, melainkan bentuk-bentuk permainannya sehingga suatu saat bisa menjadi kegiatan outbound sekaligus edukasi ekowisata sungai.

Tetapi aku sadar posisiku hanya sebagai fasilitator pendamping. Mereka ingin mengembangkan adventure tubing 2,5 kilometer, ya aku ikut saja dulu. Aku tidak ingin datang kemudian merasa gagasanku sendiri yang harus dilaksanakan.

Walaupun demikian, aku ingin memberikan gambaran seperti apa fun tubing yang ada di pikiranku. Caranya sederhana. Aku membawa dua anakku yang saat itu masih SD untuk menjadi “tester”. :)

Aku mengajak kedua anakku bermain ban di segmen sungai sekitar 100 meter dari lokasi yang nantinya menjadi titik gazebo. Waktu itu gazebonya tentu belum dibangun. Mereka turun mengikuti aliran sungai menggunakan ban. Sampai bawah, mereka naik lagi sambil memanggul ban, kemudian turun lagi. Naik lagi, turun lagi, begitu berulang-ulang.

Videonya sampai sekarang masih kusimpan. Saat itu sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan bahwa untuk membuat anak-anak senang bermain di sungai tidak harus menggunakan jalur sepanjang 2,5 kilometer. Aku tentu belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian justru pemandangan seperti itulah yang akan memenuhi Sungai Mayangsari.

Kelurahan Mulai Memberikan Dukungan

Proses bersama warga terus berjalan. Kehadiranku di Mayangsari sebenarnya atas nama pribadi, walaupun faktanya sebagian warga tetap melihatku sebagai orang dinas. Aku tidak terlalu mempersoalkannya. Yang penting prosesnya berjalan dan masyarakat semakin bersemangat.

Keguyuban masyarakat dan keseriusan mereka mengembangkan kawasan akhirnya mendapatkan dukungan dari kelurahan. Melalui anggaran APBD, kawasan sekitar titik akhir river tubing mulai ditata. Dibuat taman dan gazebo sehingga kawasan menjadi lebih rapi, bersih dan nyaman untuk dijadikan salah satu pusat aktivitas wisata.

Secara fisik mulai terlihat hasilnya. Pengunjung memang belum signifikan, tetapi lucunya konflik sudah datang lebih dulu. :)

Wisata Belum Ramai, Konflik Sudah Ada

Konflik pertama cukup sederhana. Ada yang merasa dirinya lebih layak memimpin dibandingkan Mas Gondrong. :)

Kemudian muncul persoalan yang lebih serius. Mas Gondrong beberapa kali dilaporkan oleh orang-orang yang tidak menyukainya, baik kepada pemerintah maupun lembaga lain. Salah satu yang dipersoalkan berkaitan dengan pemanfaatan bantaran sungai dan perintisan wisata yang sedang dilakukan.

Sambil proses terus berjalan, aku ikut mendampingi Mas Gondrong menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Pernah suatu ketika akan ada pertemuan kampung dan Mas Gondrong seperti mau “diadili”. Aku sengaja memberi tanda kutip karena tentu saja bukan diadili dalam pengertian pengadilan. Tetapi kami memperkirakan forum itu akan digunakan untuk mempertanyakan bahkan menyerang apa yang sedang dirintis.

Sore sebelum pertemuan, kami ngobrol dan membekali Mas Gondrong dengan beberapa kata kunci serta argumentasi. Kalau memang nanti ada yang mempermasalahkan perintisan wisata, setidaknya ia sudah siap menjawab.

Esok harinya Mas Gondrong bercerita kepadaku. Katanya, dia menang debat 3–0. Hahaha.... Seru lah. :)

Lalu Covid Datang

Mayangsari sudah mulai dirintis. Kawasan sudah ditata, gazebo dan taman sudah ada, bahkan konflik sudah sempat terjadi. Tetapi wisatawan belum datang secara signifikan.

Kemudian Covid melanda dan Mayangsari semakin sepi. Semua yang sudah kami lakukan seperti harus berhenti sementara. Tidak ada yang tahu apakah wisata yang baru saja dirintis itu nantinya benar-benar akan berkembang atau justru berhenti sampai di sana.

Ternyata ceritanya belum selesai.

Tahun 2021, Sungai Itu Mendadak Ramai

Ketika situasi Covid mulai mereda pada 2021, mungkin masyarakat juga sudah bosan terlalu lama berada di rumah. Orang mulai mencari tempat untuk keluar bersama keluarga. Mayangsari mulai didatangi masyarakat lokal dan warga dari wilayah sekitar.


Awalnya satu dua orang, kemudian bertambah. Semakin ramai, semakin ramai lagi, sampai pada hari Minggu tertentu jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 3.000 orang.

Dan ada satu pemandangan yang membuatku tersenyum. Anak-anak bermain fun tubing di segmen sungai sekitar 100 meter. Mereka turun menggunakan ban sampai titik gazebo, kemudian naik lagi sambil membawa ban. Setelah itu turun lagi. Bolak-balik.

Karena jumlah anak yang bermain semakin banyak, pengelola kemudian memberi penanda pada titik awal di bagian hulu dan titik akhir di hilir. Tali dibentangkan dari satu sisi sungai ke sisi lainnya agar area permainan lebih jelas sekaligus lebih mudah diawasi.

Dulu aku pernah mengusulkan konsep ini. Teman-teman saat itu masih ingin fokus pada adventure tubing sepanjang 2,5 kilometer. Aku tidak memaksakan. Beberapa tahun kemudian, ternyata anak-anak dan pengunjung sendiri yang menemukan kesenangannya pada permainan sederhana sepanjang sekitar 100 meter itu.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

Dari Sewa Ban, Kemudian Tumbuh 16 Warung

Masyarakat pengelola tidak menarik tiket masuk dari pengunjung yang bermain di sungai. Mereka mendapatkan penghasilan antara lain dari menyewakan ban bekas dan berjualan makanan.

Awalnya satu warung, kemudian dua. Semakin ramai wisatawan, semakin banyak pula orang yang melihat peluang untuk berjualan. Ribut lagi. :)

Akhirnya dibuat kesepakatan agar kesempatan mendapatkan manfaat ekonomi bisa dibagi. Setiap RW mendapatkan kesempatan membuka satu warung ditambah satu warung milik Pokdarwis. Akhirnya ada sekitar 16 warung yang berjualan di tepi sungai.

Aku melihat tempat yang dulu kususuri hanya bersama satu atau dua orang sekarang dipenuhi keluarga. Anak-anak bermain air, ban hilir mudik dan warung-warung berjualan.

Aku nangis. Benar-benar terharu. Rasanya perjuangan bersama warga selama ini tidak sia-sia.

Cerita Mayangsari Sampai ke Bapakku di Wonogiri

Entah siapa yang menceritakan, kabar tentang ramainya wisata Mayangsari ternyata sampai juga ke telinga bapakku. Bapak waktu itu masih sugeng dan berada di kampung di Wonogiri.

Beliau ingin datang ke Semarang. Bukan untuk suatu urusan penting. Bapak hanya ingin melihat wisata Mayangsari.

Buatku rasanya benar-benar seperti dongeng. Tempat yang dulu kususuri bersama satu atau dua orang sambil mencari-cari potensi, sekarang membuat bapakku sendiri penasaran dan ingin melihatnya.

Yang tumbuh ternyata bukan hanya warung di tepi sungai. Penyanyi dangdut lokal dari Pokdarwis tetangga bersama kru mereka mulai tampil setiap Sabtu dan Minggu. Mereka mendapatkan saweran yang lumayan dari wisatawan. Di sepanjang jalan menuju Sungai Mayangsari juga mulai muncul beberapa usaha kuliner dan oleh-oleh.

Sungai yang tadinya sepi mulai menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Kalau Sudah Sukses, Banyak yang Datang :)

Ramainya Mayangsari akhirnya terdengar sampai kepada Walikota. Beliau mengutus staf untuk melakukan survei dan muncul rencana Walikota akan datang sendiri melihat Mayangsari sekaligus ngobrol bersama warga dan Mas Gondrong.

Menariknya, sebelum Walikota benar-benar datang, sudah ada beberapa LSM maupun kelompok relawan yang mendatangi Mayangsari. Ada yang ingin mempunyai “jasa”, seolah-olah kelompok merekalah yang berhasil mendatangkan Walikota ke sana. :)

Ya begitulah. Kalau sudah sukses, banyak yang datang. Kalau masih sepi, siapa yang peduli?

Pukul Enam Pagi Aku Masih di Pos 4 Gunung :)

Sampai pada suatu pagi aku mendapat kabar melalui WhatsApp bahwa Walikota akan datang ke Mayangsari. Karena pejabat dari dinas pariwisata akan mendampingi, aku diminta hadir untuk membantu menjelaskan proses perintisan dan pendampingan Mayangsari kepada pimpinan.

Masalahnya, ketika WA itu masuk sekitar pukul enam pagi, aku sedang berada di Pos 4 jalur pendakian Mawar. Sementara sekitar pukul sembilan aku sudah harus berada di Mayangsari.

Waduh. :)

Aku buru-buru turun. Bahkan rasanya seperti berlari dari gunung sampai basecamp. Dari sana langsung naik kuda besi menuju rumah, mandi, ganti baju, kemudian langsung berangkat ke Mayangsari.

Telat? Pasti. :)

Ketika sampai, pimpinan dari dinas sudah berada di lokasi. Untungnya Walikota belum datang. Aku kemudian sedikit banyak menceritakan kepada pimpinan bagaimana proses pendampingan dan perintisan wisata Mayangsari sampai akhirnya menjadi seramai itu.

Ketika Walikota datang, aku melihat sebentar lalu memilih pulang. Sebelumnya aku sudah berpesan kepada warga, “Di depan Walikota, tidak usah menyebut namaku.”

Malam Setelah Magrib, Rumahku “Digeruduk”

Namanya warga. Mungkin karena hubungan kami sudah terlalu dekat, ketika acara ramah tamah bersama Walikota berlangsung mereka malah mencariku. Mungkin mereka ingin aku ikut berada di forum itu, tetapi aku sudah pulang.

Kupikir selesai sudah cerita hari itu.

Ternyata belum.

Malam harinya setelah Magrib, warga Mayangsari yang merasakan dampak dari berkembangnya wisata itu datang beramai-ramai ke rumahku. Rumahku benar-benar “digeruduk”.

Mereka adalah orang-orang yang dulu bersama-sama merintis ketika Mayangsari masih sepi, orang-orang yang pernah berjalan bersamaku menyusuri sungai, dan orang-orang yang sekarang menyewakan ban, berjualan serta ikut merasakan ramainya wisata.

Mereka datang ke rumahku.

Entahlah....

Meleleh aku. Nangis lagi.

Aku memang tidak ingin namaku disebut di depan Walikota. Aku juga sudah memilih pulang ketika acara berlangsung. Tetapi malam itu mereka justru datang mencariku sampai ke rumah.

Inilah hubungan emosional di antara kami.

Aku datang ke Mayangsari awalnya hanya karena mendengar ada beberapa pemuda bermain river tubing. Aku meminta Mas Tebo “mencari tahu”, lalu bertemu Mas Gondrong, Mas Kris dan Mas Bagus. Dari obrolan berlima, semuanya kemudian berjalan ke mana-mana: menyusuri sungai, menemukan sendang, menggali cerita Udang Locok, membuat lomba kuliner, menata kawasan, menghadapi konflik, dihantam Covid, sampai akhirnya melihat ribuan orang bermain di sungai.

Tetapi ada satu pemandangan yang selalu kusukai ketika mengingat Mayangsari. Anak-anak memanggul ban ke atas, turun mengikuti aliran sungai sekitar 100 meter, kemudian naik lagi membawa bannya. Turun lagi, naik lagi.

Persis seperti dua anakku yang dulu kujadikan “tester” ketika tempat itu bahkan belum ramai.

Dan malam ketika warga Mayangsari datang beramai-ramai ke rumahku, aku merasa tidak perlu lagi menjelaskan siapa yang dahulu melakukan apa.

Mereka datang saja sudah cukup.


Ketika pertama kali datang ke Curug Gondoriyo pada 2016, aku harus menyusuri sungai dari hilir ke hulu untuk mencapainya. Akses belum ada, sekelilingnya masih semak belukar dan bebatuan, sementara air curug yang tingginya lebih dari 10 meter itu terlihat keruh. Dua tahun kemudian aku kembali dan mendapati tempat itu justru seperti tertidur kembali. Siapa sangka, hanya dalam waktu sekitar tiga bulan setelah itu, masyarakat mampu mengubahnya menjadi sebuah wisata yang pada masa ramainya bisa dikunjungi sekitar 700 orang pada hari Minggu.

Air Terjun Bercahaya

Tetapi buatku, cerita Curug Gondoriyo bukan terutama tentang jumlah pengunjung. Ada cerita tentang warga yang awalnya tidak percaya, sekitar 15 orang yang memilih terus bergerak, ide yang baru dibicarakan hari Rabu tetapi Kamis atau Jumat sudah diwujudkan, sampai sebuah persoalan berupa air keruh yang justru melahirkan gagasan Air Terjun Bercahaya.


Aku datang pertama kali karena tugas. Aku kembali karena merasa tempat ini mempunyai potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi pada akhirnya, justru dari masyarakat Gondoriyo aku belajar banyak tentang arti pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

Pertama Kali ke Curug Gondoriyo Tahun 2016

Pertama kali aku datang ke Curug Gondoriyo adalah tahun 2016. Saat itu ada laporan melalui Lapor Gub dan Lapor Walikota mengenai keberadaan sebuah air terjun atau curug di pinggir perkampungan yang belum dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

Aku mendapat tugas untuk mengecek lokasi dan melakukan survei awal. Sederhananya, aku diminta melihat apakah tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup layak untuk dikembangkan menjadi wisata atau tidak.

Sebelumnya kami berkoordinasi dengan lurah setempat. Aku datang bersama pimpinan dan seorang teman kantor, kemudian diantar petugas kelurahan menuju kawasan curug. Namun kondisi akses saat itu cukup sulit sehingga yang akhirnya benar-benar sampai ke lokasi curug hanya aku dan Mas Tebo.

Walaupun air terjunnya sebenarnya terlihat dari pinggir kampung, belum ada akses langsung untuk turun ke sana. Kami harus memutar ke arah hilir, kemudian menyusuri aliran sungai menuju hulu melalui pematang sempit, bebatuan dan kawasan yang saat itu masih berupa semak belukar.

Ketika akhirnya sampai, menurut perkiraanku curug itu mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter. Debit airnya lumayan, tetapi ada satu hal yang langsung terlihat: airnya keruh. Aliran sungai di bagian atas memang melewati kawasan perkampungan.

Menurutku tempat ini mempunyai potensi untuk dikembangkan, tetapi jelas membutuhkan kerja keras. Selain persoalan akses, debit air juga tidak selalu stabil. Kondisi air yang keruh juga akan menjadi persoalan kalau yang hendak dijual hanya keindahan sebuah air terjun.

Hasil survei itu kemudian kulaporkan kepada pimpinan. Setelah itu proses pengembangan ditindaklanjuti oleh petugas lain yang memang mempunyai kewenangan dalam pemberdayaan masyarakat.

Sempat Dirintis, Lalu Seperti Tertidur Kembali

Dari informasi yang kuterima kemudian, masyarakat mulai bergerak. Dibentuk kelompok sadar wisata beserta pengurusnya. Akses menuju curug mulai dibuka meskipun masih berupa jalan tanah. Kabarnya sudah mulai ada pula pengunjung yang datang, walaupun jumlahnya masih sedikit dan belum berkelanjutan.

Setelah itu aku tidak lagi terlibat secara langsung.

Kurang lebih dua tahun kemudian, PLN menghubungiku. Saat itu mereka sedang mencari lokasi yang memungkinkan mendapatkan dukungan CSR untuk pembangunan infrastruktur wisata berbasis masyarakat. Tentu ada kriterianya. Destinasi tersebut harus sudah berjalan dan mempunyai pengelolaan masyarakat yang cukup baik.

Aku teringat Curug Gondoriyo dan mengajak mereka melakukan survei ke sana. Dalam bayanganku, setelah hampir dua tahun tentu tempat itu sudah berkembang jauh dibandingkan ketika pertama kali kudatangi.

Ternyata yang kami temukan justru sebaliknya.

Kawasan itu terlihat tidak terawat dan sama sekali tidak ada aktivitas wisata. Jalan turun menuju curug sebenarnya masih ada, tetapi curam dan licin. Di kawasan curug bahkan masih banyak ban bekas yang dulunya digunakan untuk bermain atau berenang di bawah curug.

Curug Gondoriyo seperti kembali tertidur.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya lokasi tersebut tidak dipilih untuk mendapatkan dukungan CSR PLN. Bagi PLN mungkin itu hanya satu dari beberapa lokasi yang disurvei. Tetapi bagiku kunjungan tersebut meninggalkan sesuatu dalam pikiran.

Sayang sekali kalau potensi sebagus ini berhenti begitu saja.

Sabtu, 6 Oktober 2018, Aku Datang Kembali

Ada dua alasan yang membuatku ingin kembali mendampingi masyarakat.

Pertama, menurutku potensi tempat ini sebenarnya cukup bagus. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kampus besar. Kalau dikembangkan dengan benar, aku meyakini pasarnya cukup besar.



Alasan kedua lebih personal. Aku memang menyukai aktivitas trekking ke curug-curug, terutama pada tanggal merah yang bukan akhir pekan. Sabtu dan Minggu biasanya kugunakan untuk pulang ke Jogja menjenguk anak dan istriku. Sejak dulu aku juga aktif dalam kegiatan pecinta alam dan menjadi salah satu founder keluarga pecinta alam di sebuah kampus di Jogja yang banyak bergerak dalam kegiatan outdoor dan ekowisata.

Karena itu ketika melihat Curug Gondoriyo, pikiranku tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana membuat orang datang melihat air terjun. Aku membayangkan sesuatu yang lebih jauh.

Bagaimana kalau Curug Gondoriyo dikembangkan menjadi ekowisata sungai?

Aku membayangkan masyarakat di kawasan hulu semakin mempunyai alasan untuk menjaga sungai dari sampah. Sungai yang bersih bukan hanya penting untuk wisata, tetapi juga berkaitan dengan kondisi wilayah di bawahnya hingga aliran menuju laut Semarang, termasuk persoalan banjir dan berbagai bencana lainnya.

Dalam pikiranku waktu itu ada hubungan yang cukup sederhana: kalau masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari sungai melalui aktivitas wisata, mereka juga mempunyai kepentingan untuk menjaga sungai tersebut.

Jadi cita-citaku sejak awal sebenarnya bukan sekadar menjadikan Curug Gondoriyo sebagai curug biasa. Aku ingin mencoba mendorongnya menjadi bagian dari sebuah ekowisata sungai.

Dengan pikiran itulah pada Sabtu, 6 Oktober 2018, aku kembali ke Gondoriyo.

Semuanya Dimulai dari Obrolan di Teras Rumah Pak RW

Masalahnya, aku sebenarnya belum mengenal masyarakat setempat. Ketika datang pada 2016, aku ke lokasi dalam rangka tugas dan diantar petugas kelurahan.

Aku kemudian meminta bantuan seorang kenalanku, relawan BPBD yang juga anggota Kelurahan Tangguh, untuk mengenalkanku kepada tokoh masyarakat. Dari situlah aku bertemu Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga.

Tidak ada rapat resmi. Tidak ada presentasi ataupun dokumen perencanaan yang tebal. Kami hanya duduk dan ngobrol di teras rumah Pak RW.

Walaupun baru pertama kali mengenal mereka secara pribadi, sambutannya sangat terbuka. Pak RW, Mas Arifin dan beberapa warga terlihat antusias. Mereka kemudian mengantarku turun kembali menuju curug sambil menceritakan apa saja yang sebelumnya pernah dilakukan.

Aku memotret, merekam video, mencatat penjelasan mereka dan mencoba melihat kembali kawasan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.

Menjelang makan siang kami mengakhiri survei karena orang-orang yang mengantarku mempunyai keperluan lain. Aku kemudian disuguhi makan sederhana: nasi, sayur Indomie dan ikan wader.

Entah bagaimana, dari pertemuan sederhana itu kami langsung terasa akrab. Sambil makan kami ngobrol ngalor-ngidul sebelum akhirnya aku pamit.

Tetapi aku sudah mempunyai niat untuk kembali.

Ternyata Potensinya Bukan Hanya Curug

Pada kunjungan berikutnya, aku tidak hanya melihat curug. Aku meminta diajak berkeliling kampung untuk melihat apa saja yang sebenarnya dimiliki masyarakat.

Salah satu tempat yang kami datangi adalah Sawah Klombroh, kawasan persawahan di bawah aliran sungai curug yang lokasinya agak jauh ke bawah. Di sana aku melihat hamparan padi hijau dengan bentuk persawahan terasering, kolam ikan, gubuk-gubuk petani serta tanaman sela berupa sayuran dan buah-buahan.

Ada pula berbagai obang-abing, semacam memedi sawah yang dibuat masyarakat dari bahan-bahan lokal seperti batang pisang, bambu dan anyaman. Benda-benda itu dibuat agar bergerak untuk menakuti burung.

Survei kemudian berlanjut ke bagian lain kampung. Ada beberapa usaha kecil kerajinan tangan dan ada pula budidaya jamur.

Semakin banyak yang kulihat, semakin berubah pula cara pandangku. Kalau hanya menjual curug, kami akan selalu berhadapan dengan kelemahan debit air dan kondisi air yang kadang keruh. Tetapi kalau yang dikembangkan adalah wisata desa, seluruh kehidupan kampung bisa menjadi potensi atraksi.

Curug tetap menjadi magnet utamanya, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya yang dijual.

Membuka Kembali “Kitab-Kitab” Lamaku

Semua foto, video dan catatan hasil survei kubawa pulang. Di luar jam kerja kantor aku mulai mencoba mengolahnya sambil memikirkan satu pertanyaan: kalau tempat ini benar-benar ingin dikembangkan, mau dibuat seperti apa?



Aku kemudian membuka kembali “kitab-kitab” lamaku, catatan ketika dulu masih aktif dalam kegiatan lingkungan. Aku pernah mendapat sedikit pembelajaran dari teman-teman WALHI dan BKSDA Jogja mengenai pemberdayaan masyarakat.

Aku teringat sebuah metode bernama Participatory Rural Appraisal atau PRA. Pemahamanku sederhana: masyarakatlah yang seharusnya merencanakan, membangun, melaksanakan dan mengelola. Kita yang datang dari luar cukup menjadi fasilitator, membantu membaca potensi dan memberikan arahan ketika diperlukan.

Konsep itu terasa pas untuk Gondoriyo.

Kalau suatu hari wisata ini berhasil, yang harus merasa memiliki adalah masyarakatnya sendiri.

Rabu Dibicarakan, Kamis atau Jumat Kadang Sudah Jadi

Mulailah diskusi-diskusi informal dengan warga. Aku mencoba memberikan arahan agar masyarakat bersemangat mengembangkan curug dan berbagai potensi di sekitarnya menjadi wisata yang nantinya bisa memberikan manfaat ekonomi.

Kami tidak langsung membicarakan sesuatu yang besar. Langkah pertama adalah memperbaiki akses. Setelah itu menambah taman, spot selfie dan tempat-tempat duduk dari kayu. Baru langkah berikutnya menyentuh curugnya sendiri.

Sebenarnya ada alasan mengapa bagian curug justru kutunda. Aku belum mempunyai jawaban untuk persoalan air yang keruh. Daripada seluruh proses berhenti hanya karena satu persoalan yang belum terpecahkan, kami mengerjakan terlebih dahulu apa yang bisa dilakukan.

Respons warga sungguh di luar dugaanku. Kadang sebuah ide baru kami bicarakan hari Rabu. Kamis atau Jumat ternyata sudah diwujudkan.

Proses perencanaan dan pembangunan seperti kejar-kejaran.

Sekitar 15 orang menjadi motor utama gotong royong. Ada bapak-bapak dan pemuda, sedangkan ibu-ibu biasanya menyiapkan makanan untuk mereka yang bekerja. Pada tahap awal kebutuhan makan dan minum banyak didukung Pak RW.

Masyarakat bahkan berani mengambil risiko untuk membiayai pembangunan. BPKB kendaraan dikumpulkan dan dititipkan kepada salah seorang pemimpin mereka sebagai bentuk komitmen bersama. Untuk mendapatkan pinjaman dari bank digunakan jaminan berharga lainnya.

Artinya, pembangunan itu bukan datang dari sebuah proyek besar.

Masyarakat sendiri yang berani patungan dan mengambil risiko untuk mewujudkannya.

Tidak Semua Orang Langsung Percaya

Tentu tidak semua warga sejak awal yakin rencana itu bisa diwujudkan. Ada yang menganggapnya terlalu sulit. Sebagian memilih cuek dan tidak ikut berpartisipasi.

Tetapi sekitar 15 orang tadi terus bergerak. Mereka membuka akses, membersihkan kawasan, membuat taman, tempat duduk dan berbagai atraksi sedikit demi sedikit. Pak RW menjadi salah satu orang yang sangat kuat memberikan dukungan.

Ketika perubahan mulai terlihat, perlahan sikap sebagian warga yang sebelumnya ragu ikut berubah.

Dari situ aku belajar satu hal: kadang orang tidak perlu terlalu lama diyakinkan dengan kata-kata. Mereka perlu melihat bahwa sesuatu benar-benar mulai terjadi.

Jembatan Comblang dan Cerita yang Menjual Gembok Kecil

Ide kemudian datang dari banyak orang. Pak RW, misalnya, mengusulkan memasang lampu kuning sepanjang kurang lebih 300 meter untuk menerangi jalur menuju curug. Ia bahkan berniat melihat sendiri jenis lampu di Taman Indonesia Kaya di pusat Kota Semarang dan membelinya menggunakan uangnya sendiri.

Ada pula Pak Ryan, salah seorang pemikir yang hampir selalu ikut dalam pertemuan. Kami sering berdiskusi mengenai atraksi dan spot foto yang harus dibuat berbeda serta mudah diingat pengunjung.

Dari proses itulah salah satunya lahir Jembatan Comblang, jembatan bambu yang menghubungkan sisi kanan dan kiri sungai. Jembatan itu dihias dengan payung-payung dan lampu sehingga menarik sebagai tempat berfoto.

Nama Jembatan Comblang kuusulkan untuk menciptakan cerita. Bayanganku sederhana dan hanya untuk seru-seruan sebagai atraksi wisata: pasangan yang datang harus selfie bersama di Jembatan Comblang supaya seolah-olah “dicomblangi” sampai ke jenjang pernikahan.

Tidak ada urusan mistis ataupun kepercayaan tertentu. Ini murni storytelling wisata.

Bahkan sempat muncul gagasan menjual gembok cinta. Pengunjung bisa membeli gembok kecil kemudian mencantolkannya di ujung jembatan.

Sebenarnya kami hanya ingin menjual gembok kecil.

Tetapi produk sederhana pun bisa mempunyai nilai ketika diberi cerita.

Air Keruh Membawaku Menemukan Niagara

Sementara pembangunan berjalan sangat cepat, satu persoalan masih terus mengganggu pikiranku: air curug yang keruh.

Aku mulai melakukan riset sederhana melalui internet. Dari proses pencarian itulah aku menemukan bagaimana Niagara Falls tampil pada malam hari dengan permainan cahaya.

Dari sana muncul sebuah ide.

Kalau air Curug Gondoriyo kurang menarik ketika terlihat keruh pada siang hari, mengapa tidak membuat penampilannya berbeda pada malam hari dengan cahaya warna-warni?

Saat itu istilah Air Terjun Bercahaya belum muncul. Yang ada baru gagasan memberi pencahayaan warna-warni pada curug.

Ketika gagasan itu kusampaikan, warga setuju. Masalah berikutnya, kami belum tahu persis jenis lampu yang cocok, kisaran harga dan bagaimana penggunaannya di kawasan yang dekat dengan air.

Aku kemudian teringat beberapa teman yang bekerja sebagai manajer karaoke. Mereka tentu lebih mengenal permainan lampu warna-warni. Kupanggil mereka ke Curug Gondoriyo yang saat itu masih dalam tahap pembangunan.

Kuceritakan apa yang kami inginkan. Mereka kemudian menjelaskan jenis lampu yang bisa digunakan, bagaimana memilih perlengkapan yang sesuai untuk kondisi di sekitar air, kisaran harganya, sampai menunjukkan toko di Kota Semarang yang menjualnya.

Setelah itu terjadi sesuatu yang sampai sekarang menurutku menggambarkan betul semangat warga Gondoriyo waktu itu.

Malam harinya mereka langsung membeli lampunya. Esok paginya sudah dipasang ramai-ramai. :)

Begitulah ritme pembangunan saat itu. Ide dan pelaksanaan benar-benar saling mengejar.

Lahirlah “Air Terjun Bercahaya”

Istilah Air Terjun Bercahaya justru baru muncul kemudian.

Saat itu aku mendapat kesempatan membuat materi pemasaran potensi lokal dan desa wisata untuk wilayah Kedungsepur—Kendal, Ungaran, Salatiga, Semarang dan Purwodadi. Di beberapa tempat aku sekaligus menjadi presenter atau marketing yang memaparkan berbagai potensi tersebut.

Ketika menyusun materi promosi itulah aku membutuhkan cara sederhana untuk menjelaskan apa yang berbeda dari Curug Gondoriyo.

Dari situlah muncul frase:

Air Terjun Bercahaya.

Aku kemudian membawanya dalam berbagai paparan dengan rasa bangga.

Menariknya, semua itu justru berawal dari sebuah kelemahan. Air yang keruh memaksa kami mencari pembeda. Kami memang tidak mampu mengubah kondisi sungai dalam semalam, tetapi kami bisa mencari cara agar curug mempunyai pengalaman yang berbeda.

Tiga Bulan yang Berjalan Sangat Cepat

Dari kunjungan pertamaku kembali pada 6 Oktober 2018, proses survei, diskusi, kerja bakti, pembukaan akses, pembuatan taman, tempat duduk, spot foto, Jembatan Comblang hingga pencahayaan kawasan curug berlangsung hanya sekitar tiga bulan.

Warga bekerja bergantian siang dan malam.

Ketika kemudian muncul keinginan untuk me-launching Curug Gondoriyo, mereka kembali bergerak. Kawasan curug dipercantik. Berbagai atraksi dipersiapkan, termasuk pembuatan jenang dan kesenian tradisional gejog lesung.

Proses untuk menghadirkan Walikota ditempuh melalui jalur pemerintah sekaligus komunikasi masyarakat. Bagian itu tidak perlu kuceritakan secara detail. Buatku yang lebih penting adalah melihat masyarakat begitu antusias mempersiapkan sebuah tempat yang hanya beberapa bulan sebelumnya masih terlihat seperti wisata yang sudah ditinggalkan.

Ketika peresmian akan dilakukan, aku diminta duduk di bagian depan. Aku memilih tidak melakukannya. Aku juga tidak ingin namaku disebut secara khusus dalam sambutan.

Aku memahami posisiku.

Sejak awal aku ingin menjadi fasilitator. Yang membangun tempat itu adalah masyarakat. Maka masyarakatlah yang selayaknya berada di depan.

Ada saja orang yang mungkin tidak banyak terlibat selama proses tetapi ketika peresmian datang kemudian menceritakannya seolah-olah semua itu merupakan usaha atau programnya. :)

Aku memilih tidak mempersoalkannya.

Masyarakat tahu siapa saja yang selama ini berjalan bersama mereka. Buatku itu sudah lebih dari cukup.

Ketika Hari Minggu Bisa Didatangi 700 Orang

Perlahan Curug Gondoriyo mulai dikenal. Pada masa ramainya, jumlah kunjungan pada hari Minggu bahkan pernah mencapai sekitar 700 orang.

Buatku angka itu bukan hanya soal keberhasilan mendatangkan wisatawan. Ada sesuatu yang lebih menarik karena berhubungan langsung dengan cita-citaku sejak awal.

Warga mulai mempunyai kepentingan untuk menjaga sungainya sendiri.

Hampir setiap hari ada warga yang membersihkan sampah agar kawasan wisata tetap bersih. Ketika banjir membawa sampah dan mengotori kawasan, mereka kembali turun melakukan pembersihan secara gotong royong.

Di situlah gagasan yang awalnya hanya ada dalam pikiranku mulai terlihat bentuknya. Ketika sungai memberikan manfaat kepada masyarakat, sungai tidak lagi sekadar aliran air yang melewati kampung.

Ia menjadi sesuatu yang mempunyai nilai dan karena itu perlu dijaga.

Ketika Wisata Tumbuh, Masalah Ikut Tumbuh

Ramainya pengunjung ternyata juga membawa persoalan baru. Salah satunya akses menuju curug. Ada bagian jalan yang terhalang posisi sebuah rumah sehingga ketika jumlah pengunjung meningkat, akses tersebut perlu diperlebar.

Pak RW dan Mas Arifin kemudian melakukan negosiasi dengan pemilik rumah. Pada akhirnya persoalan bisa diselesaikan dan jalan dapat diperlebar.

Pengalaman itu kembali mengingatkanku bahwa membangun wisata desa bukan hanya urusan atraksi dan promosi. Ada kepentingan banyak orang yang bertemu di ruang yang sama.

Ketika wisata tumbuh, persoalan yang harus dikelola juga ikut tumbuh.

Lalu Covid Datang

Ketika wisata mulai berkembang, datanglah Covid. Kunjungan menurun dan aktivitas wisata ikut terpukul.

Setelah masa Covid, muncul keinginan untuk mengembangkan kembali kawasan tersebut. Salah satu gagasannya adalah menggandeng investor untuk membangun kafe di dekat curug. Bayangannya cukup menarik: orang bisa datang, duduk minum kopi sambil menikmati view Curug Gondoriyo.

Tetapi kali ini persoalannya bukan tidak ada investor yang berminat. Justru muncul perbedaan pendapat di antara warga sendiri mengenai detail kerja sama yang akan dilakukan. Kesepakatan tidak tercapai sehingga pada akhirnya rencana investasi tersebut batal.

Bagiku itu juga bagian dari proses belajar.

Ketika belum mempunyai apa-apa, tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat percaya dan mau bergerak. Setelah wisata berkembang, tantangannya berubah menjadi bagaimana menyatukan kepentingan, mengelola aset dan membuat keputusan bersama.

Tengah Malam dan Sepotong Durian

Meskipun perjalanan Curug Gondoriyo mengalami pasang surut, hubunganku dengan masyarakat tidak berhenti ketika pembangunan selesai atau setelah peresmian dilakukan.

Kami tetap dekat.

Ada satu kejadian kecil yang sampai sekarang selalu membuatku tersenyum ketika mengingatnya.

Dulu aku tidak bisa makan durian. Kalau memaksa makan, biasanya malah ingin muntah.

Suatu malam aku mendapat undangan ngopi di kelurahan sebelah. Aku diminta membantu memotivasi dan menginisiasi wisata di kampung tersebut. Obrolannya panjang dan baru selesai sekitar pukul dua belas malam.

Untuk pulang aku memang harus melewati Gondoriyo. Warga yang sudah sangat akrab denganku menghubungi dan mengatakan bahwa jam berapa pun selesai, aku harus mampir ke Gondoriyo.

Akhirnya tengah malam aku mampir. Kami duduk di teras rumah Pak RT sambil ngobrol ngalor-ngidul. Suasananya sekaligus seperti nostalgia dengan masa-masa awal kedatanganku ke sana.

Di tengah obrolan, salah seorang warga tiba-tiba pamit keluar sebentar. Kupikir ia sudah mengantuk dan sebenarnya ingin pulang tetapi tidak enak mengatakannya.

Ternyata dugaanku salah.

Beberapa saat kemudian ia kembali membawa durian.

Aku langsung deg.

Dalam pikiranku ada dua pilihan yang sama-sama membuat bingung. Kalau menolak, rasanya tidak enak. Tengah malam orang sudah bersusah payah mengambil durian untuk menjamuku. Tetapi kalau kupaksa makan, aku takut malah muntah di depan mereka.

Akhirnya aku makan juga.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku menunggu.

Sampai sekitar lima menit kemudian terjadi “keajaiban”.

Aku tidak muntah. :)

Dan sejak saat itu sampai sekarang, aku justru suka durian.

Yang Tumbuh Ternyata Bukan Hanya Tempat Wisata

Kalau melihat kembali perjalanan sejak pertama datang pada 2016, kemudian kembali pada 6 Oktober 2018, Curug Gondoriyo memberiku pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana merintis sebuah destinasi.

Aku pernah melihat tempat itu ketika aksesnya masih sulit, dipenuhi semak dan airnya keruh. Aku melihatnya sempat dirintis kemudian kembali tidak terawat hingga gagal mendapatkan dukungan CSR. Aku kembali dan bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak kukenal.

Dari obrolan di teras rumah Pak RW, makan nasi dengan sayur Indomie dan ikan wader, berjalan melihat Sawah Klombroh, sekitar 15 warga yang tetap bergerak ketika sebagian lainnya masih ragu, sampai lampu yang dibeli malam hari dan esok paginya langsung dipasang, semuanya menjadi bagian dari proses belajar itu.

Aku juga melihat bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap sebagai kelemahan justru bisa melahirkan kreativitas. Air yang keruh membawaku menemukan Niagara, kemudian melahirkan gagasan pencahayaan, dan akhirnya menjadi branding Air Terjun Bercahaya.

Tetapi pelajaran terpenting bagiku tetap kembali kepada gagasan sederhana yang kubawa sejak awal: masyarakat harus menjadi pelaku utama. Orang seperti aku cukup mendampingi, memfasilitasi dan sesekali membantu membuka alternatif jalan. Mereka sendiri yang harus merencanakan, membangun, menjalankan dan pada akhirnya menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.

Karena itu mungkin ukuran keberhasilannya bagiku bukan apakah namaku pernah disebut ketika tempat itu diresmikan.

Aku datang pertama kali ke Gondoriyo karena tugas. Aku kembali karena merasa ada potensi yang sayang dibiarkan. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika tengah malam pun mereka masih memintaku mampir hanya untuk ngobrol dan makan durian bersama, aku sadar bahwa yang tumbuh di Gondoriyo ternyata bukan hanya sebuah tempat wisata.

Ada persaudaraan yang ikut tumbuh bersamanya.

Referensi Video : IG @Semarangpemkot


Thursday, September 24, 2026

Bertahun-tahun sebelum menjadi pasien hemodialisa, aku sebenarnya sudah akrab dengan ruang cuci darah. Aku sering mengantar ibundaku dan pakdheku menjalani hemodialisa. Mereka kakak beradik, sama-sama mengalami gagal ginjal, dan keduanya kemudian meninggal karena penyakitnya.



Waktu itu aku hanya menjadi orang yang mengantar dan menemani. Tidak pernah terpikir bahwa suatu hari aku akan berbaring di tempat yang sama sebagai pasien. Hari itu akhirnya datang, bermula dari pusing yang sudah tidak tertahankan sejak tengah malam, tekanan darah sekitar 220/110, masuk ICCU dalam kondisi yang ternyata sudah antara sadar dan tidak sadar, berpindah rumah sakit dengan ambulans, hingga pemasangan CDL yang sempat beberapa kali gagal.

Anehnya, dari semua rangkaian itu, hemodialisa pertama justru bukan bagian yang paling kutakuti. Aku merasa cukup tenang karena sudah berkali-kali melihat ibu dan pakdhe menjalaninya. Aku bahkan merasa sudah siap. Ternyata aku salah memperkirakan satu hal. Bukan saat akan menjalani hemodialisa yang membuatku kewalahan, tetapi apa yang terjadi setelah mesin itu selesai bekerja. Pusing luar biasa, mual dan muntah hebat membuatku bahkan tidak sanggup membuka mata sampai kembali ke bangsal.

Sebuah pengalaman yang dimulai dengan pertanyaan sederhana—“Kalau cuma pusing begini, memang termasuk gawat darurat?”—dan berakhir di sebuah ruang yang sebenarnya sudah lama kukenal. Bedanya, kali ini aku bukan lagi orang yang mengantar. Aku adalah pasiennya.

Malam Itu Pusingnya Sudah Tidak Tertahankan

Malam setelah Grand Final ASN Inovatif ternyata menjadi salah satu malam yang kemudian mengubah sejarah kesehatanku. Sejak tengah malam, pusing yang kurasakan semakin berat sampai akhirnya benar-benar tidak tertahankan. Aku membangunkan istriku.

Lucunya, dalam kondisi seperti itu aku masih sempat memikirkan sesuatu yang sangat praktis. “Ini benar-benar gawat darurat atau cuma pusing?” Aku khawatir kalau ternyata kondisiku dianggap bukan kegawatdaruratan, pelayanan di IGD tidak bisa menggunakan BPJS dan akhirnya harus membayar sendiri.

Belakangan aku baru menyadari betapa tidak perlunya kekhawatiran itu. Saat sampai di IGD, ternyata kondisiku sudah berada di antara sadar dan tidak sadar. Tekanan darahku sekitar 220/110 mmHg. Setelah diperiksa, dokter langsung merekomendasikan aku masuk ICCU. Di sanalah rangkaian panjang menuju hemodialisa pertamaku dimulai.

Ternyata Kesadaranku Sudah Tidak Sepenuhnya Baik

Ketika masuk rumah sakit, berbagai alat medis dipasang di tubuhku. Salah satunya kateter untuk BAK. Anehnya, ketika kateter itu dipasang aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku bahkan sempat berpikir, “Oh, ternyata dipasang kateter memang tidak sakit.”

Beberapa hari kemudian, ketika kondisiku sudah jauh lebih baik dan kateter itu akan dilepas, barulah aku tahu jawabannya. Sakit juga ternyata. :) Dari pengalaman sederhana itulah aku semakin yakin bahwa ketika pertama datang ke IGD, kesadaranku memang sudah tidak sepenuhnya baik. Aku merasa sadar dan masih mempunyai potongan-potongan ingatan tentang apa yang terjadi, tetapi mungkin sebenarnya kesadaranku hanya sebagian.

Tat Tit Tat Tit di ICCU

Ketika mulai benar-benar sadar di ICCU, salah satu hal yang paling kuingat justru suara. Tat... tit... tat... tit.... Entah berapa alat yang berbunyi di ruangan itu. Dalam kondisiku saat itu, suara berbagai monitor tersebut terasa gaduh sekali.

Kemudian aku menengok ke kanan dan kiri. Di situlah rasa tidak nyaman berubah menjadi rasa takut. Pasien-pasien di sekitarku hampir semuanya dalam keadaan tidak sadar, sementara aku sudah mulai bisa melihat, berpikir dan berbicara. Jujur saja, suasananya terasa seram. Aku sampai berpikir, “Kok aku ditaruh di sini? Memangnya kondisiku separah mereka?”

Akhirnya aku mencoba bernegosiasi dengan perawat dan dokter agar dipindahkan ke bagian lain. Bukan karena merasa sudah sehat, tetapi secara psikologis aku benar-benar tidak nyaman berada di sana. Hari berikutnya aku dipindahkan ke bagian lain di area ICCU. Di dekat tempatku dirawat ada ruangan bayi yang bisa kulihat dari balik kaca. Entah kenapa, melihat bayi-bayi itu membuat perasaanku jauh lebih nyaman. Di tengah kondisi seperti itu, ternyata hal sederhana bisa sangat memengaruhi pikiran.

Menunggu Tubuhku Stabil

Hari-hari itu tubuhku penuh dengan berbagai selang. Botol infus rasanya datang dan pergi. Ada selang yang mampet kemudian dibetulkan, ada pula yang harus dipasang ulang. Tekanan darahku juga terus menjadi perhatian karena sangat tinggi.

Sebenarnya gagal ginjal bukan diagnosis yang baru kuketahui saat itu. Aku sudah mengetahui kondisi ginjalku sebelumnya, tetapi sampai saat itu belum pernah menjalani hemodialisa. Dokter menjelaskan bahwa aku belum bisa langsung menjalani cuci darah karena ada kondisi tubuh yang harus dikoreksi dan distabilkan terlebih dahulu.

Aku sudah tidak ingat persis istilah medis yang digunakan dokter. Dalam ingatanku ada kaitannya dengan kondisi asam-basa tubuh, mungkin asidosis, tetapi aku tidak ingin memastikan sesuatu yang memang sudah tidak kuingat dengan jelas. Sebagai pasien, yang kupahami waktu itu sederhana: tubuhku harus dibuat cukup stabil sebelum menjalani hemodialisa.

Istriku Mencari Rumah Sakit untuk Tempatku Cuci Darah

Memasuki hari ketiga, muncul persoalan berikutnya. Aku membutuhkan hemodialisa, sementara rumah sakit tempatku dirawat saat itu tidak memungkinkan untuk langsung melakukannya. Perawat sebenarnya sudah memberikan saran beberapa rumah sakit yang bisa dicoba. Akhirnya istriku yang bergerak mencari.

Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana: datang ke rumah sakit, bertanya apakah tersedia layanan hemodialisa, lalu mengurus rujukan. Tetapi bagi istriku tidak sesederhana itu. Ia bukan orang yang terbiasa pergi ke mana-mana sendirian. Aktivitasnya lebih banyak di sekitar rumah dan pergi sendiri biasanya hanya untuk berbelanja di tempat-tempat yang sudah dikenalnya. Sekarang ia harus naik kendaraan sendiri mencari rumah sakit untuk suaminya yang sedang terbaring di ICCU.

Sampai di rumah sakit tujuan pun persoalannya belum selesai. Tidak serta-merta ia bisa bertemu orang yang mempunyai kewenangan untuk memastikan apakah aku dapat diterima. Ada prosedur, administrasi dan birokrasi yang harus dilewati, sementara aku hanya bisa menunggu dari tempat tidur rumah sakit.

Akhirnya ditemukan satu rumah sakit yang bisa menerima. Rumah sakit tempatku dirawat kemudian membuat rujukan secara online dan rumah sakit tujuan memberikan respons. Malam itu kami bersiap pindah.

Untuk Kedua Kalinya Aku Naik Ambulans

Sekitar tengah malam aku dibawa menggunakan ambulans menuju rumah sakit berikutnya. Itulah pengalaman keduaku naik ambulans. Pengalaman pertama terjadi bertahun-tahun sebelumnya ketika istriku akan melahirkan anak pertama kami. Saat itu proses persalinan normal tidak berjalan sesuai harapan sehingga ia harus dirujuk ke rumah sakit lain yang jaraknya sekitar 40 kilometer.

Waktu itu aku ikut naik ambulans sebagai pendamping istriku. Sekarang posisinya terbalik. Dulu aku duduk di ambulans menemani istriku. Kali ini aku yang terbaring sebagai pasien, dan istriku yang menemaniku. Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami perjalanan dengan posisi yang bertukar seperti itu.

“Saya Belum Dipasang Akses, Lho...”

Kami tiba di rumah sakit tujuan sekitar tengah malam. Aku masuk melalui IGD terlebih dahulu dan baru keesokan paginya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dalam pikiranku, tahap berikutnya mestinya jelas: dibuatkan akses untuk hemodialisa, kemudian barulah menjalani cuci darah.

Ternyata urutannya sempat membuatku bingung. Seorang perawat dari unit hemodialisa datang untuk menjemputku. Aku kaget. “Saya belum dipasang akses, lho....” Aku langsung menolak.

Pengetahuanku tentang hemodialisa saat itu memang masih sangat terbatas. Yang terbayang di kepalaku adalah akses untuk cuci darah akan dibuat melalui pembuluh darah di sekitar selangkangan. Membayangkannya saja sudah membuatku tidak nyaman. Akhirnya proses hemodialisa belum dilakukan saat itu. Hari berikutnya barulah aku dipanggil ke ruang tindakan untuk pemasangan CDL.

Sakit, Geli, Jengkel, Lalu Maklum

CDL akan dipasang di dada sebelah kiri. Aku hanya mendapat bius lokal sehingga selama tindakan berlangsung tetap sadar. Seingatku kepalaku dimiringkan ke kanan dan ada kain atau semacam penghalang sehingga aku tidak bisa melihat secara langsung apa yang sedang dilakukan di dada kiriku. Aku memang tidak bisa melihat, tetapi aku bisa mendengar.

Ada dua dokter residen yang mengerjakan pemasangan. Setelah dada sebelah kiriku disayat, alat yang hendak dimasukkan ternyata tidak berhasil masuk sebagaimana mestinya. Dicoba lagi, gagal lagi. Ketika alat dimasukkan melalui bagian yang sudah disayat itu, rasa sakitnya lumayan terasa.

Sementara dari balik penghalang aku mendengar percakapan kedua dokter. Dari cara mereka berbicara, aku mulai menangkap bahwa tindakan itu tidak berjalan semulus yang direncanakan. Bayangkan posisiku: aku berbaring dalam keadaan sadar, dada sudah disayat, ada alat yang beberapa kali dicoba dimasukkan tetapi gagal, sementara aku mendengar sendiri percakapan dokter yang terdengar mulai agak panik.

Sejujurnya perasaanku waktu itu campur aduk. Sakit, takut, geli, sekaligus agak jengkel. Geli mendengar percakapan mereka, jengkel karena sempat terlintas dalam pikiranku, “Kok rasanya aku seperti jadi kelinci percobaan, ya?” :)

Akhirnya dokter yang lebih senior dipanggil. Setelah melihat kondisinya, kurang lebih dijelaskan bahwa posisi sayatan sebelumnya kurang tepat. Aku yang sejak tadi hanya bisa mendengarkan akhirnya pasrah. Yang penting satu: tolong diselesaikan. Setelah ditangani, CDL akhirnya berhasil terpasang.

Kalau dipikir kembali sekarang, rasa jengkelku waktu itu juga akhirnya bisa kupahami. Dokter residen memang harus belajar dan menambah jam terbang. Mungkin tindakan seperti pemasangan CDL dianggap cukup memungkinkan dilakukan dalam proses pendidikan dengan supervisi dokter yang lebih senior. Dan akhirnya aku pun bisa memakluminya.

Sebelum Cuci Darah, Harus Rontgen Dulu

Ternyata setelah CDL terpasang aku belum langsung menjalani hemodialisa. Aku harus menjalani pemeriksaan rontgen terlebih dahulu untuk memastikan posisi CDL sudah benar. Setelah hasilnya dipastikan baik, barulah aku dibawa menuju ruang hemodialisa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan benar-benar menjalani apa yang selama ini hanya kukenal sebagai cuci darah. Anehnya, aku tidak terlalu takut.

Cuci Darah Bukan Dunia yang Asing Bagiku

Ada alasan mengapa aku relatif tenang menghadapi hemodialisa pertama. Aku sudah mengenal dunia itu jauh sebelum menjadi pasien. Bertahun-tahun sebelumnya aku sering mengantar ibundaku dan pakdheku menjalani hemodialisa. Mereka kakak beradik dan sama-sama mengalami gagal ginjal. Keduanya kemudian meninggal karena sakitnya.

Terutama dengan pakdheku, ada kenangan tersendiri. Ia sebenarnya mempunyai dua orang anak. Tetapi ketika pertama kali menjalani hemodialisa dan pada beberapa momen penting seperti Lebaran, justru aku yang dimintanya mengantar. Kalau bukan bersamaku, kadang ia tidak mau. :)

Aku pernah mengantar dan menemani mereka menjalani cuci darah di Sardjito dan Moewardi. Jadi ruang hemodialisa, mesin cuci darah dan pasien-pasien yang berbaring berjam-jam bukan pemandangan yang sepenuhnya asing bagiku. Aku pernah berada di dunia itu. Hanya saja dahulu aku berada di sana sebagai orang yang mengantar.

Sekarang giliranku sendiri yang berbaring sebagai pasien. Mungkin karena pengalaman bersama ibu dan pakdhe itulah aku memasuki HD pertama dengan relatif tenang. Aku merasa siap. Ternyata yang kemudian mengejutkanku justru bukan sebelum HD, melainkan apa yang kurasakan selama dan sesudahnya.

Lapar dan Leher yang Sakit

Ketika hemodialisa mulai berjalan, salah satu hal yang paling kurasakan justru sangat sederhana: aku lapar sekali. Selain itu leherku juga sakit. Aku tidak tahu persis penyebabnya. Yang jelas leher terasa tidak nyaman sampai akhirnya aku memilih berbaring tanpa menggunakan bantal selama proses hemodialisa.

Aku menjalani semuanya dengan cukup tenang. Saat itu aku belum memahami istilah QB, QD, UF, dry weight, URR, Kt/V, dialyzer dan berbagai angka yang sekarang sudah begitu akrab dalam kehidupanku. Aku hanya tahu bahwa darahku sedang diproses melalui sebuah mesin karena ginjalku tidak lagi mampu menjalankan pekerjaannya sebagaimana mestinya.

Begitulah aku menjalani hemodialisa pertamaku sampai akhirnya proses itu selesai.

Setelah HD, Barulah Aku Benar-Benar Kewalahan

Kalau sebelum dan selama HD aku relatif tenang, justru setelah selesai kondisiku berubah. Aku mulai merasa mual, kemudian muntah dan muntah lagi. Pusingnya luar biasa sampai aku memilih terus memejamkan mata karena rasanya tidak sanggup membukanya.

Ketika dibawa kembali dari ruang hemodialisa menuju bangsal, mataku masih terus terpejam. Rasa ingin muntah datang berulang-ulang. Awalnya aku masih muntah, tetapi lama-kelamaan sudah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Tubuhku tetap seperti ingin muntah meskipun perut rasanya sudah kosong.

Aku masih terus merasakan mual dan pusing sampai berada di bangsal. Entah berapa lama persisnya kondisi itu berlangsung. Yang kuingat, setelah akhirnya bisa tertidur, tubuhku perlahan menjadi lebih tenang. Ketika kemudian terbangun, barulah aku bisa membuka mata dengan nyaman lagi.

Selesai sudah pengalaman hemodialisa pertamaku.

Dahulu Aku Mengantar, Sekarang Aku yang Menjalani

Kalau sekarang mengingat kembali perjalanan beberapa hari itu, rasanya begitu banyak kejadian berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bermula dari pusing yang tidak tertahankan, masih sempat memikirkan apakah masuk IGD bisa menggunakan BPJS, lalu mengetahui tekanan darah sudah 220/110 dan kesadaranku ternyata sudah tidak sepenuhnya baik.

Kemudian masuk ICCU dengan suara tat tit tat tit berbagai alat, ketakutan melihat pasien-pasien di sekelilingku dalam keadaan tidak sadar, meminta pindah, lalu menemukan sedikit ketenangan dengan melihat bayi-bayi dari balik kaca. Setelah itu istriku harus mencari rumah sakit untuk tempatku menjalani cuci darah, kami berpindah dengan ambulans tengah malam, aku sempat menolak dijemput untuk HD karena belum mempunyai akses, lalu menjalani pemasangan CDL yang beberapa kali gagal sebelum akhirnya berhasil.

Dan anehnya, bagian yang mungkin paling menakutkan bagi sebagian orang justru kuhadapi dengan cukup tenang. Aku sudah pernah melihat semuanya. Aku pernah menemani ibu dan pakdhe menjalani jalan yang sama. Hanya saja ada satu perbedaan besar: dahulu aku berdiri atau duduk di dekat mereka sebagai orang yang mengantar. Hari itu aku yang berbaring, aku yang menjalani hemodialisa, dan istriku yang menemaniku.

Barangkali saat itu aku belum benar-benar memahami bahwa kehidupan setelah hari tersebut akan banyak berubah. Jadwal hidup berubah, cara makan dan minum berubah, cara memahami tubuh sendiri berubah. Angka-angka yang dahulu sama sekali tidak kupedulikan perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Tetapi satu hal tidak berubah: hidup tetap harus dijalani.

Dulu aku pernah mengantar orang-orang yang kusayangi menjalani hemodialisa. Aku tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian aku akan menjalani perjalanan yang sama.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi datang sebagai pengantar. Aku datang sebagai pasien.

Itulah hari ketika babak baru dalam hidupku dimulai.


 

sumber Foto : Nusantara Sport Climbing

Ada satu hal yang selalu membuatku tersenyum setiap mengingat perjalanan Fitriyani.

Aku mengenalnya ketika ia belum menjadi juara nasional, belum mengenakan seragam tim nasional, belum meraih emas SEA Games, apalagi Asian Games.

Saat itu tahun 2007. Fitri hanyalah salah satu atlet muda Sleman yang kami persiapkan menghadapi Porda DIY.

Aku melihat perjalanan itu dari cukup dekat. Dari seorang atlet junior yang harus bekerja keras menghadapi para seniornya, menemukan nomor yang kemudian membesarkan namanya, menjadi juara nasional, masuk Pelatnas, mengalami masa-masa sulit, lalu mempersembahkan emas SEA Games dan Asian Games untuk Indonesia.

Tetapi justru bukan medali-medali itu yang paling menarik bagiku ketika mengenang perjalanan Fitri sekarang.

Yang menarik adalah melihat seorang atlet yang dahulu dibina, bertahun-tahun kemudian memilih kembali untuk membina generasi berikutnya, termasuk mengenalkan panjat tebing anak melalui Nusantara Sport Climbing.

Dan ceritanya bagiku bermula pada 2007.

Aku Mengenal Fitri pada 2007

Perkenalanku dengan Fitriyani hampir bersamaan dengan awal keterlibatanku dalam dunia panjat tebing secara organisatoris.

Menjelang Porda DIY 2007, panjat tebing akan dipertandingkan. Sementara saat itu Kabupaten Sleman belum mempunyai federasi panjat tebing. Beberapa bulan menjelang Porda, KONI Sleman menginisiasi pembentukan FPTI Sleman.

Pak Sri Purnomo menjadi Ketua Umum dan Pak Hari menjadi Ketua Harian. Aku sendiri ditelepon oleh ketua terpilih dan diminta memegang posisi bendahara.

Alasannya sederhana: kepercayaan. Kiprah kami bersama di dunia pencinta alam sudah cukup panjang.

Dari sebuah telepon itulah perjalanan sekitar sepuluh tahunku mengurus panjat tebing Sleman dimulai.

Setelah kepengurusan terbentuk, kami segera menyiapkan tim menghadapi Porda. Pemusatan latihan dibentuk dan salah satu atlet di dalamnya adalah Fitriyani.

Saat itu kekuatan panjat tebing Sleman masih berada di bawah bayang-bayang Kota Yogyakarta. Di sana sudah ada beberapa atlet putra maupun putri yang terbiasa berlaga di tingkat nasional.

Fitri sendiri masih relatif junior. Untuk bersaing dengan para seniornya tentu dibutuhkan kerja keras.

Aku cukup dekat dengan hampir semua atlet. Bukan semata-mata karena menjadi pengurus, tetapi karena sejak pemusatan latihan hingga Porda aku termasuk yang banyak terlibat dalam manajemen pergerakan atlet, pelatih dan ofisial.

Urusannya sering kali bukan tentang teknik memanjat. Mulai dari tempat tinggal, makan dan minum, uang saku, keberangkatan, sampai bonus ketika mereka berhasil membawa pulang medali.

Dari situlah aku mengenal para atlet bukan hanya ketika mereka sedang bertanding, tetapi juga ketika mereka lelah, kecewa, tertekan, atau sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Fitri salah satunya.

Fitri Sebelum Menjadi Juara

Fitri sebenarnya sudah mengenal panjat tebing sebelum bergabung dengan tim Sleman yang kutangani.

FPTI mencatat ia mulai mengenal olahraga ini sekitar usia 17 tahun melalui kegiatan pencinta alam di MAN Yogyakarta. Dari sana ia kemudian berlatih bersama seniornya di UGM.

Perjalanannya bahkan pernah hampir berhenti setelah mengalami kecelakaan dalam sebuah kompetisi di Kulonprogo. Orang tuanya sempat melarangnya kembali memanjat.

Tetapi Fitri kembali berlatih.

Pada masa awal ia bermain di nomor lead dan boulder, kemudian berkembang ke speed. Ia bahkan sempat meraih perak speed klasik pada Kejurnas di Bali.

Ketika berada dalam Pelatda Sleman, aku melihat kemampuannya cukup menonjol. Tetapi di lead, speed klasik maupun boulder, persaingannya memang berat. Ada atlet-atlet senior berkualitas nasional yang harus dihadapinya.

Kemudian sekitar 2009–2010 muncul nomor yang menurutku menjadi salah satu titik balik perjalanan Fitri:



speed track.

Di nomor inilah Fitri seperti menemukan tempatnya.

2010: Jalan Menuju Tim Nasional Mulai Terbuka

Pada 2010 Fitri mengikuti kejuaraan senior di Jakarta dan berhasil meraih medali emas speed track. Setelah kemenangan itu, prestasinya di nomor yang sama terus berkembang.

Bagi kami yang mengenalnya sejak menjadi atlet daerah, tentu ada kebanggaan tersendiri.

Atlet muda yang dahulu harus bekerja keras mengejar senior-seniornya mulai menjelma menjadi salah satu atlet speed track terbaik.

Prestasi itu kemudian membuka jalan menuju Pemusatan Latihan Nasional untuk SEA Games 2011.

Tetapi perjalanan menuju medali emas ternyata tidak semulus hasil akhirnya.

Ketika Pelatnas Tidak Selalu Berjalan Mulus

Aku tidak mendampingi Fitri secara langsung selama berada di Pelatnas. Tetapi komunikasi kami tidak berhenti.

Kami masih sering berkomunikasi melalui SMS atau telepon.

Ada masa ketika kondisinya turun. Ada persoalan keluarga, dinamika dengan sesama atlet dan pelatih, juga persoalan pribadi lainnya.

Aku masih mengingat sebagian besar ceritanya sampai sekarang, tetapi tentu bukan itu yang ingin kuceritakan di sini.

Bagiku yang lebih penting adalah bagaimana ia bertahan di tengah semuanya.

Ingatan tentang naik-turunnya Fitri selama Pelatnas ternyata sejalan dengan cerita Fitri sendiri bertahun-tahun kemudian. Ia pernah menceritakan bahwa posisinya sempat berada sekitar urutan ketujuh dan performanya justru menurun pada hari-hari terakhir Pelatnas.

Namun ia tetap dipercaya turun pada nomor perorangan.

Aku memahami atmosfer Pelatnas tentu berbeda dengan Pelatda daerah.

Di tingkat nasional tekanannya jauh lebih tinggi. Pada akhirnya tuntutan prestasinya sangat jelas:

medali, medali, dan medali.

Sedangkan ketika mendampingi atlet-atlet Sleman, aku mencoba menanamkan sesuatu yang sedikit berbeda.

Juara dalam Olahraga, Juara dalam Kehidupan

Aku sering mengatakan kepada atlet-atlet kami bahwa emas, perak atau perunggu bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang atlet.

Bukan berarti medali tidak penting. Kami tetap ingin menang. Kami tetap ingin Sleman menjadi juara.

Tetapi aku tidak ingin seorang atlet merasa seluruh harga dirinya selesai hanya karena pada suatu pertandingan ia gagal mendapatkan medali.

Berlatih sungguh-sungguh, disiplin, mengikuti bimbingan pelatih, berani menghadapi tekanan, memberikan kemampuan terbaik ketika bertanding, jujur, sportif, menerima kekalahan dan kemudian bangkit kembali—semuanya merupakan bagian dari pembentukan karakter.

Ada filosofi yang sejak dulu kupegang:

Menjadi juara dalam olahraga seharusnya menjadi latihan untuk menjadi juara dalam kehidupan nyata.

Pantang menyerah ketika mengejar tujuan. Disiplin menjalani kehidupan. Jujur ketika tidak ada wasit yang mengawasi. Menghargai orang lain. Menerima kegagalan dan mempunyai keberanian untuk mencoba lagi.

Menurutku, itulah salah satu makna pembinaan olahraga.

Medali suatu hari akan tersimpan di lemari. Rekor suatu saat akan dipecahkan atlet lain. Tetapi karakter yang dibangun melalui proses menjadi atlet bisa dibawa sepanjang hidup.

Emas SEA Games 2011

Kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi.

Fitri yang menjelang akhir Pelatnas justru mengalami penurunan performa akhirnya dipercaya turun pada speed track perorangan putri SEA Games XXVI 2011 di Palembang.

Dan ia menang.

Fitriyani meraih medali emas untuk Indonesia.

UGM, tempat Fitri ketika itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, juga mendokumentasikan keberhasilannya menyumbangkan emas Indonesia melalui speed track perorangan putri.

Aku ikut merasakan hiruk-pikuk setelah kemenangan itu.

Banyak wartawan DIY ingin mewawancarainya. Sebagian pertanyaan bahkan diserahkan kepadaku untuk menjawabnya. Entah resmi atau tidak, waktu itu rasanya aku ikut menjadi humasnya. :)

Tetapi tentu bukan menjawab pertanyaan wartawan yang membuatku bahagia.

Yang membanggakan adalah melihat atlet muda yang dahulu kami dampingi di Sleman kini menjadi juara SEA Games membawa nama Indonesia.

Prestasi itu juga meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sebuah medali.

Pemerintah Kabupaten Sleman kemudian membangun Fitriyani Climbing Arena. Fitri sendiri menyebut fasilitas tersebut sebagai penghargaan terbesar yang diterimanya dari Kabupaten Sleman karena generasi atlet setelah dirinya mempunyai tempat berlatih tanpa harus selalu menumpang di tempat lain.

Waktu itu mungkin belum terlihat, tetapi kata “generasi setelahnya” kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan Fitri.

Hubungan yang Tak Lagi Sekadar Pengurus dan Atlet

Seiring perjalanan waktu, hubunganku dengan Fitri berkembang melampaui hubungan pengurus dan atlet.

Saking dekatnya, sekitar dua tahun sebelum menikah ia pernah berpesan kepadaku: kalau suatu hari menikah, ia ingin aku menjadi salah satu saksinya.

Ketika hari itu akhirnya datang, aku justru menyarankan agar yang menjadi saksi adalah Ketua Umum FPTI Sleman yang ketika itu juga menjabat sebagai Bupati Sleman.

Aku tetap hadir menyaksikan pernikahannya bersama teman-teman atlet FPTI Sleman.

Fitri menikah dengan seseorang yang juga kukenal dari lingkungan atlet Porda Sleman 2007.

Bagiku, itu menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah keluarga olahraga yang tumbuh bersama.

Setelah Sepuluh Tahun, Aku Memilih Mundur

Pada 2017, setelah sekitar sepuluh tahun berada dalam kepengurusan FPTI Sleman, aku memutuskan mundur.

Tidak mudah.

Aku berat meninggalkan teman-teman FPTI Sleman dan rasanya mereka pun berat melepas. Tetapi sepuluh tahun menurutku sudah cukup panjang.

Ada visi dan program yang berhasil kami implementasikan. Ada pula yang mungkin hasilnya belum memuaskan.

Aku merasa sudah waktunya memberi kesempatan kepada orang lain.

Aku meninggalkan kepengurusan, tetapi ternyata tidak benar-benar meninggalkan orang-orang yang tumbuh bersama di dalamnya.

Fitri salah satunya.

Asian Games 2018: Puncak Karier

Menjelang Asian Games 2018, komunikasi kami masih cukup sering.

Fitri kembali berada di Pelatnas. Kali ini tantangannya berbeda. Pada usia 30 tahun ia merupakan atlet putri paling senior di Pelatnas panjat tebing Indonesia dan harus beradaptasi dari speed track yang selama bertahun-tahun menjadi spesialisasinya menuju speed world record.

Ada pula satu keinginan pribadi yang beberapa kali ia ceritakan kepadaku: menjadi PNS melalui jalur prestasi.

Setelah menjadi juara SEA Games, ia pernah mencoba kesempatan penerimaan melalui jalur prestasi tetapi belum berhasil. Kekecewaan itu pernah ia ceritakan kepadaku.

Aku hanya bisa terus mendorongnya:

Berprestasilah lagi. Selama masih ada kesempatan, jalan itu belum selesai.

Kemudian Asian Games 2018 datang.

Fitriyani bersama Aries Susanti Rahayu, Puji Lestari dan Rajiah Sallsabillah memperkuat Indonesia pada nomor speed relay putri. Mereka berhasil mempersembahkan medali emas Asian Games 2018 setelah mengalahkan Tiongkok di final.

Itulah salah satu puncak perjalanan Fitri sebagai atlet.

Setelah Asian Games, jalan yang sejak lama diinginkannya akhirnya terbuka. Prestasi tersebut ikut mengantarkannya melanjutkan kehidupan sebagai aparatur negara melalui jalur prestasi.

Kalau cerita ini hanya tentang prestasi, mungkin di sinilah seharusnya aku mengakhirinya.

Tetapi justru bagian setelah itulah yang paling ingin kuceritakan.

Dari Juara Menuju Pembinaan Panjat Tebing Anak

Dalam berbagai komunikasi kami, Fitri berkali-kali menyampaikan satu keinginan:

ia ingin membina anak-anak.

Ia ingin melakukan regenerasi.

Keinginan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika kariernya sebagai atlet berada di penghujung. Aku sudah mendengarnya dalam beberapa kesempatan.

Maka ketika ia mulai merintis klub, aku memahami bahwa yang ingin dibangunnya bukan sekadar tempat berlatih. Fitri ingin membuka ruang bagi panjat tebing anak, agar olahraga yang telah membesarkan namanya bisa dikenalkan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan.

Kami kembali sering berdiskusi.

Tidak semuanya mudah.

Pada masa awal merintis ada berbagai kesulitan. Bahkan setelah Nusantara Sport Climbing berhasil berdiri, tantangannya tidak otomatis selesai.

Salah satu yang pernah kami diskusikan adalah keinginannya mempunyai venue di tanah miliknya sendiri. Sebuah cita-cita yang tentu membutuhkan dukungan pembiayaan yang tidak sedikit.

Aku tidak selalu mempunyai jawaban atas setiap persoalan yang disampaikannya.

Kadang aku hanya bisa memberi saran. Kadang hanya memotivasi.

Tetapi aku tahu satu hal:

membina panjat tebing anak adalah sesuatu yang sudah lama ingin dilakukan Fitri.

Nusantara Sport Climbing kemudian berdiri pada 28 Oktober 2019. Setahun kemudian klub tersebut sudah membina sekitar 45 atlet usia TK, SD hingga SMP.

Ada sesuatu yang membuatku tersenyum ketika kemudian membaca bagaimana Fitri menjelaskan cara mereka membina anak-anak.

Ternyata bukan medali yang pertama kali ia bicarakan.

Pembinaan anak juga diarahkan pada pendidikan karakter. Anak yang awalnya malu, takut kepada orang lain atau takut ketinggian dilatih menjadi lebih berani. Mereka belajar kebersamaan, disiplin dan tanggung jawab. Latihan dibuat menyenangkan agar anak-anak menikmati prosesnya.

Menurutku ini penting, terutama bagi orang tua yang mulai mengenalkan olahraga ini kepada anak. Ketika mencari panjat tebing terdekat, yang dibutuhkan tentu bukan sekadar lokasi latihan yang dekat dari rumah. Lingkungan yang aman, menyenangkan, pelatih yang memahami anak, serta proses pembinaan yang baik justru jauh lebih penting.

Dan dari apa yang kulihat dalam perjalanan Fitri, pembinaan memang tidak pernah semata-mata tentang mencetak pemenang.

Aku seperti mendengar kembali sesuatu yang pernah sangat akrab dalam perjalanan kami dahulu.

Dulu Dibina, Kini Membina

Mungkin inilah bagian perjalanan Fitri yang paling kusukai.

Pada 2007 aku mengenalnya sebagai atlet muda yang sedang mencari jalannya.

Aku melihatnya berlatih. Melihat prestasinya naik dan turun. Mendengar keluhannya ketika menghadapi masa-masa sulit. Dan sesekali mencoba memberinya semangat ketika ia sedang jatuh.

Kemudian aku menyaksikannya menjadi juara nasional.

Menjadi juara SEA Games.

Dan akhirnya mencapai salah satu puncak tertinggi kariernya dengan emas Asian Games.

Kini perannya berbeda.

Dulu Fitri adalah atlet yang dibina.
Kemudian ia menjadi juara.
Sekarang ia membina anak-anak agar lahir generasi berikutnya.

Ada sebuah lingkaran perjalanan yang menurutku indah.

Setelah emas SEA Games, Kabupaten Sleman membangun Fitriyani Climbing Arena agar generasi setelahnya mempunyai tempat untuk berlatih.

Bertahun-tahun kemudian, Fitri sendiri memilih mencurahkan sebagian waktunya untuk membina generasi itu. Dari perjalanan itulah panjat tebing anak tidak lagi sekadar bicara bagaimana anak belajar memanjat, tetapi juga bagaimana olahraga menjadi ruang untuk belajar berani, disiplin, sportif dan bertanggung jawab.

Mungkin pada akhirnya inilah salah satu arti sebuah prestasi.

Bukan hanya berapa banyak medali yang berhasil diperoleh seorang atlet, tetapi apa yang dilakukan dengan seluruh pengalaman setelah masa kejayaannya berlalu.

Bertahun-tahun lalu aku sering mengatakan kepada atlet-atlet Sleman bahwa menjadi juara dalam olahraga seharusnya membantu mereka menjadi juara dalam kehidupan nyata.

Sekarang Fitri membimbing anak-anak untuk mengenal keberanian, kedisiplinan, kebersamaan dan tanggung jawab.

Aku tentu tidak tahu apakah semua nasihat yang dahulu sering kusampaikan masih diingatnya satu per satu.

Tetapi melihat jalan yang dipilihnya sekarang, rasanya aku menemukan sebagian jawabannya.

Membina atlet bukan hanya tentang menciptakan anak-anak yang mampu meraih medali. Pembinaan juga tentang membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang kelak mampu menjadi juara dalam kehidupannya sendiri.

Begitu kan, Fit?


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts